Konsumen Diminta Bijak, Jangan Panic Buying BBM

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menegaskan masyarakat tidak perlu melakukan aksi borong BBM atau panic buying.

18 Maret 2026, 05:55 WIB

Jakarta -Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Indonesia yang sebagian besar kebutuhan BBM dan gas elpiji dipasok dari kawasan tersebut, berpotensi terdampak langsung.

Pegiat perlindungan konsumen sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menegaskan masyarakat tidak perlu melakukan aksi borong BBM atau panic buying.

Menurutnya, tindakan tersebut justru memperburuk keadaan.

“Panic buying hanya akan menimbulkan kelangkaan dan mendorong harga BBM naik. Masyarakat sebaiknya fokus pada strategi pengendalian konsumsi, misalnya dengan beralih ke transportasi umum,” ujar Tulus Abadi dalam keterangan tertulis 18 Maret 2026.

Fenomena panic buying sempat terjadi di sejumlah daerah, seperti Aceh dan Jember.

Pemerintah sendiri tengah mempertimbangkan kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk menekan konsumsi BBM.

Namun, kebijakan ini dinilai masih lambat dibandingkan negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan pengurangan jam kerja atau sistem kerja empat hari dalam sepekan.

Selain itu, pemerintah juga mewacanakan pengurangan anggaran subsidi BBM. Tulus menilai langkah yang lebih tepat adalah mereview kuota konsumsi BBM bersubsidi.

“Kuota pertalite bersubsidi saat ini 60 liter per hari, padahal rata-rata konsumsi nasional hanya 19,5 liter per hari. Mereview kuota lebih kecil dampak sosial ekonominya dibandingkan menaikkan harga,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah perlu memberikan pernyataan yang edukatif agar masyarakat tidak panik.

“Kebijakan harus rasional dan holistik. Pemerintah mesti membangun kebersamaan dengan masyarakat untuk menghadapi dampak perang terhadap pasokan energi,” kata Tulus.

Dengan demikian, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong BBM.

Kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran konsumen dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan energi di tengah ketidakpastian global. ***

Berita Lainnya

Terkini