Konsumsi Bali Tetap Tangguh: Penurunan Harga BBM dan Kenaikan UMK Dongkrak Penjualan Ritel

Bank Indonesia (BI) memprakirakan penjualan eceran di Pulau Dewata tumbuh moderat, didorong oleh kombinasi kebijakan harga energi, penyesuaian upah, dan siklus pendidikan.

20 Februari 2026, 16:03 WIB

Denpasar – Kinerja sektor ritel di Provinsi Bali menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Bank Indonesia (BI) memprakirakan penjualan eceran di Pulau Dewata tumbuh moderat, didorong oleh kombinasi kebijakan harga energi, penyesuaian upah, dan siklus pendidikan.

Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE), Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada Januari 2026 tercatat sebesar 124,2. Angka ini mencerminkan pertumbuhan tahunan sebesar 6,5% (yoy) dan pertumbuhan bulanan sebesar 0,9% (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengungkapkan bahwa optimisme pelaku usaha dipicu oleh tiga sentimen utama:

Penyesuaian Harga BBM: Penurunan harga Pertamax dari Rp12.750 menjadi Rp12.350 per liter per 1 Januari 2026 meningkatkan daya beli masyarakat.

Kenaikan Pendapatan: Implementasi kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) sebesar 7% di seluruh wilayah Bali memberikan bantalan ekonomi bagi konsumen.

Siklus Musiman: Momentum tahun ajaran baru serta peralihan cuaca meningkatkan permintaan pada subsektor peralatan sekolah dan farmasi (obat-obatan/vitamin).

Data menunjukkan seluruh kategori pembentuk IPR berada di zona ekspansi.
Berikut adalah rincian sektor yang mengalami pertumbuhan bulanan tertinggi:

Kategori Produk Pertumbuhan (mtm)
Barang Lainnya (Farmasi, Kosmetik, Elpiji) 3,2%
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 3,2%
Sandang 2,6%
Peralatan Informasi & Komunikasi 2,3%
Barang Budaya & Rekreasi (Alat Tulis/Olahraga) 2,3%
Makanan, Minuman, dan Tembakau 1,4%

Meskipun sempat diprediksi melambat pada Maret 2026 (IEP 126), optimisme pelaku usaha diperkirakan kembali melonjak signifikan pada Juni 2026 dengan indeks 184.

Angka ini menunjukkan keyakinan kuat terhadap ketahanan ekonomi Bali di tengah ketidakpastian geopolitik global.

“Untuk mendukung stabilitas, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan pada Januari 2026. Selain itu, TPID se-Provinsi Bali terus mengakselerasi operasi pasar murah menjelang momen besar seperti Imlek, Ramadan, dan Nyepi,” jelas Erwin Soeriadimadja dalam keterangan resminya.

Langkah kolaboratif antara BI dan pemerintah daerah diharapkan mampu menjaga stabilitas harga komoditas strategis, sehingga daya beli masyarakat tetap terlindungi dan ekonomi Bali tumbuh secara berkelanjutan. ***

Berita Lainnya

Terkini