Denpasar – Harga properti residensial di pasar primer Bali tercatat tetap solid pada triwulan IV 2025.
Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tumbuh 1,06% (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 1,08% (yoy).
Kenaikan harga terjadi pada seluruh segmen rumah, yakni kecil (≤36 m²) dengan pertumbuhan 1,57% (yoy), menengah (36–70 m²) sebesar 1,12% (yoy), dan besar (>70 m²) sebesar 0,82% (yoy).
Peningkatan IHPR terutama dipicu oleh naiknya harga bangunan akibat lonjakan biaya bahan bangunan dan upah tenaga kerja.
Meski tren harga menunjukkan penguatan, para pengembang menilai penjualan properti residensial masih terhambat oleh faktor suku bunga KPR, keterbatasan lahan, pajak, serta besaran uang muka rumah.
Dari sisi pembiayaan, mayoritas pembangunan properti residensial di Bali masih mengandalkan dana internal pengembang dengan pangsa 55,9%.
Sumber lain berasal dari pinjaman bank, dana nasabah, dan lembaga keuangan non-bank.
Sementara itu, dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tetap mendominasi dengan porsi 62,4% dari total pembiayaan pembelian rumah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menegaskan kondisi pasar properti residensial Bali pada akhir 2025 masih menunjukkan ketahanan di tengah tantangan biaya produksi dan faktor pembiayaan.***

