Lewa Karma Ajak Penyuluh Agama Islam se-Bali “Naik Kelas” Lewat Kolaborasi dan Layanan Berdampak

Kabid Bimas Islam Kemenag Bali Lewa Karma meminta para penyuluh agar tidak hanya berhenti sebagai penyampai pesan keagamaan, melainkan bertransformasi menjadi pendamping masyarakat, penghubung program pemerintah, penguat kerukunan, sekaligus penggerak layanan keagamaan yang manfaatnya benar-benar dirasakan umat

1 Oktober 2026, 10:11 WIB

Denpasar – Kepala Bidang Bimbingan Islam (Bimas) Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Lewa Karma, mengajak seluruh penyuluh agama Islam di wilayahnya untuk “naik kelas.”

Ia meminta para penyuluh agar tidak hanya berhenti sebagai penyampai pesan keagamaan, melainkan bertransformasi menjadi pendamping masyarakat, penghubung program pemerintah, penguat kerukunan, sekaligus penggerak layanan keagamaan yang manfaatnya benar-benar dirasakan umat.

Ajakan tersebut mengemuka dalam agenda Diskusi Kolaboratif Penyuluh Agama Islam se-Provinsi Bali yang digelar secara daring melalui platform Zoom, Selasa (30/9). Pertemuan ini menjadi ruang perkenalan sekaligus konsolidasi awal Lewa Karma setelah resmi dilantik sebagai Kabid Bimas Islam Kanwil Kemenag Provinsi Bali.

Forum yang dipandu oleh fungsional pada Tim Penais, Alfian Wiranata, serta diawali pengantar dari Katim Juhar ini diisi dengan rangkaian perkenalan, diskusi daring, hingga bedah grafis materi kepenyuluhan.

Sesi diskusi dan bedah pengalaman turut dipandu oleh Ridwan dengan menghadirkan narasumber dari unsur penyuluh yang berbagi praktik baik di lapangan.

Bagi Lewa Karma, forum tersebut menjadi momentum penting untuk menyamakan arah kerja. Ia menilai para penyuluh memiliki posisi yang sangat strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Terima kasih atas kinerja dan berbagai prestasi yang telah ditorehkan penyuluh agama Islam di Bali. Saya mohon dukungan semua penyuluh untuk bersama-sama meningkatkan kualitas layanan, sekaligus menyesuaikan pelaksanaan tugas dengan regulasi yang berlaku,” pesan Lewa dalam arahannya.

Lewa menekankan bahwa perubahan kebutuhan masyarakat menuntut penyuluh untuk semakin adaptif. Kompetensi penyuluh tidak cukup hanya menguasai materi keagamaan, tetapi juga harus mencakup kemampuan membangun komunikasi, membaca persoalan sosial, memanfaatkan media digital, memperluas jejaring, serta menghubungkan masyarakat dengan program-program pemerintah.

Penyuluh harus banyak berkolaborasi. Jangan bekerja sendiri. Bangun sinergi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, komunitas, dan berbagai sektor lainnya.

Layanan Kementerian Agama harus memberi dampak, meninggalkan kesan positif, dan manfaat praktis bagi masyarakat,” tegas Lewa.

Arah kebijakan ini selaras dengan Asta Protas Kementerian Agama Berdampak untuk periode 2025–2029, yang mencakup delapan agenda prioritas:

 Peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan

 Penguatan ekoteologi

 Layanan keagamaan berdampak

 Pendidikan unggul dan terintegrasi

 Pemberdayaan pesantren

 Pemberdayaan ekonomi umat

 Digitalisasi tata kelola

Melalui kebijakan ini, keluaran program diharapkan tidak sekadar berhenti pada urusan administratif, melainkan memberikan solusi nyata bagi keluarga, remaja, kelompok masyarakat, hingga kelompok rentan di Bali yang kental dengan nilai kebersamaan (menyama braya).

Selain arah kerja, pertemuan daring tersebut juga menyoroti aspek dokumentasi dan publikasi kegiatan penyuluhan agar selaras dengan Graphic Standard Manual (GSM) Kementerian Agama 2025.

Menurut jajaran Bimas Islam, keseragaman visual merupakan bagian penting dari identitas kelembagaan agar mudah dikenali dan tertib. Kendati demikian, keseragaman desain tidak boleh mengalahkan substansi.

Materi yang diproduksi harus tetap membawa pesan yang moderat, sejuk, kontekstual, serta dapat dipertanggungjawabkan di ruang digital.

Melalui penguatan kompetensi, pemanfaatan teknologi, dan perluasan jejaring lintas sektor—seperti kesehatan untuk penanganan stunting atau lembaga ekonomi untuk pemberdayaan umat—pemerintah berharap para penyuluh agama Islam di Bali mampu menjadi aktor utama yang menghadirkan pelayanan cepat, tepat, ramah, dan berdampak nyata bagi masyarakat.***

 

Berita Lainnya

Terkini