Literasi Sejarah Baru: ‘Bali Slam’ Bukan Pendatang, Melainkan Saudara

Ilham Efendi, penulis dan peneliti Denpasar, menegaskan  Bali Slam bukanlah pendatang, melainkan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Bali.

31 Januari 2026, 18:40 WIB

Denpasar – Setelah melalui riset mendalam selama dua tahun, buku ‘Bali Slam – Entitas yang Terlupakan’ karya Ilham Efendi resmi diluncurkan di Denpasar. Karya ini menjadi penanda penting dalam membuka tabir sejarah Islam di Bali yang selama ini jarang terekspos.

Ilham Efendi, penulis sekaligus peneliti asal Denpasar, menegaskan  Bali Slam bukanlah pendatang, melainkan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Bali.

“Alhamdulillah, buku ini diharapkan bisa memberikan literasi bagi semua mengenai Bali Slam,” ujarnya.

Dalam penelitiannya, Ilham bersama tim menelusuri jejak Islam di berbagai kampung bersejarah, mulai dari Gelgel Klungkung, Kecicang dan Buitan di Karangasem, Kepaon di Badung, Bugis Suwung Batan Kendal, Bugis Serangan, Tanjung Benoa, Tuban Kuta, hingga Loloan Jembrana, Singaraja, dan Pegayaman di Buleleng.

Setiap lokasi menyimpan artefak, manuskrip, dan tradisi yang memperlihatkan bahwa umat Islam telah menjadi bagian dari sejarah Bali sejak berabad-abad lalu.

“Buku ini bukan sekadar cerita tutur, melainkan mengurai bukti sejarah yang nyata. Saya berharap generasi penerus tidak melupakan Bali Slam, sehingga warisan budaya dan peradaban ini tetap terjaga,” tambah Ilham.

Apresiasi juga datang dari Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Prof. I Putu Gede Suwitha.

Menurutnya, buku ini memberikan sumbangan penting bagi kajian sejarah Bali-Islam, khususnya hubungan yang terjalin sejak abad ke-17 hingga ke-18.

“Buku ini kaya dengan bahan-bahan sejarah. Bali Slam adalah saudara kedua Hindu Bali,” tegasnya.

Konsep “saudara kedua” merujuk pada nilai luhur ‘nyama braya’ dalam budaya Bali, yakni prinsip persaudaraan dan pengakuan sosial bahwa manusia tetap bersaudara meski berbeda keyakinan.

Dengan hadirnya buku ini, Bali Slam kembali ditempatkan sebagai bagian integral dari sejarah dan identitas Bali.

Hal senada disampaikan Haryo Mojopahit selaku Kepala Divisi Pengembangan Program Pendidikan, Riset, dan Budaya Dompet Dhuafa usai acara grand launching buku Bali Slam.

Buku Bali Slam mengungkap sejarah umat Islam di Bali yang tidak terpisahkan dari perjalanan arus sejarah di Pulau Dewata.

“Buku ini menguak peran dan kontribusi nyame slam yang bahu membahu dengan nyame hindunya. Semoga buku ini memberikan manfaat bagi semua pembacanya,” ujar Haryo.***

Berita Lainnya

Terkini