Menggeliatnya Berbagai Lapangan Usaha, Dorong Kinerja Perekonomian Bali

23 Mei 2016, 08:03 WIB

BI%2Blokakarya

Kabarnusa.com – Bergeraknya beberapa lapangan usaha bidang jasa dan barang memiliki share besar terhadap kinerja perekonomian di Bali memasuki awal tahun 2016.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Dewi Setyowati, dari sisi penawaran, peningkatan kinerja perekonomian Bali pada triwulan I 2016 didorong oleh meningkatnya beberapa lapangan usaha.

“Beberapa lapangan usaha ini memiliki share besar terhadap perekonomian Bali,” jelas Dewi dalam Lokakarya Kebanksentralan dan Kehumasan yang diikuti media cetak, oline dan elektronik di Ubud Gianyar 21-22 Mei 2016.

Disebutkan, beberapa lapangan usaha yang cukup menggeliat itu yakni perdaganga besar dan eceran, penyediaan akomodasi makan dan minum, transportasi, konstruksi, jasa keuangan dan kegiatan sosial.

Peningkatan lapangan usaha itu, sambung Dewi, terutama didorong oleh peningkatan kinerja industri pariwisata.

Hal itu seiring dengan adanya faktor musiman seperti perayaan hari raya keagmaan mulai Imlek, paskah, galungan hingga Nyepi.

Dewi melanjutkan, ari sisi penggunaan, peningkatan kinerja perekonmian Bali pada triwualan I 2006, didorong oleh peningkatan tiga komponen utama yani konsumsi rumah tangga, PMTB atau investasi dan meningkatnya kinerja ekspor luar negeri.

Ekspor yang masih menjadi andalan Bali terutama komoditas produk olahan kayu, garmen dan pakaian jadi.

Peningkatan ekspor itu, seiring dengan mulai membaiknya permintaan ekspor dari mulai negera tujuan ekspor dan upaya diversifikasi pemasaran ke negara lain oleh eksportir.

Peninhkatan kinerja perekonomian Bali pada twiwulan pertama tahun ini, secara umum, terjadi seiring dengan upaya internal yang dilakukan pelaku usaha dalam meningkatkan akses pasar.

Para pelaku usaha mampu dengan pengembangan alternatif pasar baru domestik maupun ekspor. Kemudian, mulai membaiknya permintaan global khsusunya Amerika Serikat yang menjadi tujuan negara ekspor komoditas hasil olahan kayu dan garmen di Provinsi Bali.

Tak kalah pentingnya, lanjut Dewi, pengembangan produk dan perbaikan pelayanan yang terus dilakukan pelaku usaha.

Demikian pula, dampak lanjutan dari relaksasi ketentuan MICE Juni 2015 seperti faktor musiman seperti hari raya Imlek hingga Nyepi pada triwulan laporan.

Peningkatan juga didorong oleh menguatnya nilai tukar rupiah sehingga berdampak pada penurunan biaya bahan baku yang memiliki kandungan bahan impor. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini