Menghidupkan Kembali Tradisi: ARMA Fest 2026 Rayakan Tiga Dekade Ruang Seni dan Budaya di Ubud

Ketua ARMA Fest 2026, I Made Sutama, menjelaskan festival ini merupakan wujud nyata implementasi visi dan misi museum untuk melibatkan seniman lokal Bali maupun luar Bali dari berbagai lintas generasi.

20 September 2026, 07:19 WIB

Ubud — Ajang tahunan ARMA Fest kembali digelar dengan mengusung tema “Living Tradition: Ruang Pertemuan Seni, Tradisi, dan Komunitas”. Memasuki penyelenggaraan tahun keempatnya, festival ini sekaligus menandai perjalanan 30 tahun ARMA (Agung Rai Museum of Art) sejak pertama kali didirikan pada 9 Juni 1996 sebagai pusat diskusi, pendidikan budaya, dan destinasi wisata budaya di Bali.

Ketua ARMA Fest 2026, I Made Sutama, menjelaskan festival ini merupakan wujud nyata implementasi visi dan misi museum untuk melibatkan seniman lokal Bali maupun luar Bali dari berbagai lintas generasi.

“Semua generasi memiliki kesempatan untuk tampil, termasuk melibatkan seniman dari Banjar Keliki,” ujar Sutama.

Konferensi pers ARMA Fest di ARMA Ubud Gianyar Sabtu (19/9/2026)/dok.salvirachandra

Ia menambahkan, di tengah berbagai tantangan zaman, ARMA Fest bertekad untuk terus menjadi panutan dalam merawat dan melestarikan warisan leluhur.

Rangkaian acara yang berlangsung dari pembukaan pameran pada 17 September hingga 30 September 2026 ini disambut antusias publik dengan total 895 orang yang terlibat langsung.

Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan ini dapat dinikmati masyarakat secara gratis berkat dukungan berbagai pihak, termasuk sponsor seperti Bank Mandiri, BPD, dan LPDP Adat.

Sementara itu, perwakilan manajemen, Agung Yudi, menegaskan ARMA hadir sebagai jembatan penting untuk bersinergi antar-generasi sekaligus membuka ruang ekonomi bagi pelaku UMKM lokal.

“Kegiatan ini juga merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial atau CSR kami untuk terus mengangkat seni budaya Bali serta mengintegrasikannya dengan peran para tamu resort,” ungkap Agung.

Sepanjang periode pameran, pengunjung disuguhkan berbagai agenda harian menarik dari kawasan Ubud dan sekitarnya.

Program unggulan yang dihadirkan meliputi ruang kreatif berupa perlombaan, pertunjukan seni pertunjukan dominan seperti Baleganjur yang dirancang sebagai daya tarik generasi muda dan tamu resort, serta pementasan rutin Tari Ramayana oleh SMKI Sukawati setiap hari Jumat.

Antusiasme tinggi juga terlihat pada berbagai workshop dan pementasan seni yang diselenggarakan secara berkala setiap seminggu sekali, antara lain:

 Workshop mekena yang diikuti oleh 80 peserta.

 Workshop melukis bersama seniman Keliki (90 peserta) dan seniman Sukawati (90 peserta).

 Workshop mekendang.

Pementasan Tari

Panji Semaragirang oleh 35 penari.

Pementasan Tari Pendet dari Sanggar Kumalasari oleh 45 penari.

Dengan dukungan aktif dari pemerintah serta keterlibatan lintas elemen masyarakat, ARMA Fest terus membuktikan konsistensinya sebagai ruang interaksi budaya yang hidup, inklusif, dan berkelanjutan di Bali.***

Berita Lainnya

Terkini