Pakar UMY Ingatkan Bahaya ‘Pemimpin Boneka’ di Venezuela Pasca-Invasi AS

Pakar Sosiologi Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., memperingatkan pemimpin baru yang muncul dari rahim intervensi asing berisiko besar hanya menjadi "boneka" kepentingan eksternal.

7 Januari 2026, 08:16 WIB

Yogyakarta– Intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela memicu kekhawatiran mendalam mengenai masa depan kedaulatan negara kaya minyak tersebut.

Pakar Sosiologi Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., memperingatkan pemimpin baru yang muncul dari rahim intervensi asing berisiko besar hanya menjadi “boneka” kepentingan eksternal.

Prof. Zuly menilai, pergantian kekuasaan yang dipicu oleh tekanan kekuatan luar sering kali menciptakan ilusi perubahan. Masyarakat yang sudah jenuh dengan rezim lama cenderung memberikan dukungan instan kepada siapa pun sosok penggantinya, tanpa menyadari konsekuensi jangka panjangnya.

“Ketika masyarakat sudah tidak suka dengan pemimpin lama, lalu ada kekuatan asing yang menurunkannya, dukungan sering kali diberikan secara emosional. Padahal, pemimpin yang diangkat melalui tangan asing berpotensi besar menjadi pemimpin boneka,” ujar Prof. Zuly pada Selasa (6/1/2026).

Menurutnya, euforia publik sering kali membutakan realitas bahwa proses transisi jauh lebih penting daripada sekadar pergantian wajah. “Yang penting bukan hanya siapa yang diganti, tetapi bagaimana proses itu terjadi dan untuk kepentingan siapa,” tegas Guru Besar Fisipol UMY tersebut.

Dampak penangkapan Presiden Venezuela oleh pihak AS dianalisis akan memicu krisis legitimasi yang hebat. Hilangnya otoritas lokal yang jelas membuat kendali pemerintahan rentan berpindah sepenuhnya ke aktor luar.

Zuly menyoroti bahwa posisi Venezuela sebagai produsen minyak dunia menjadikannya magnet kepentingan yang sangat krusial. Beberapa risiko utama yang membayangi antara lain:

Keterikatan Politik: Pemimpin baru akan merasa berutang budi pada pihak yang membantunya naik takhta.

Instabilitas Elite: Perpecahan di kalangan politikus, militer, dan intelijen Venezuela kian meruncing akibat campur tangan asing.

Manipulasi Narasi: Publik dapat dengan mudah digiring melalui narasi “penyelamatan” dan “stabilisasi” yang semu.

“Dalam situasi krisis, masyarakat cenderung mencari figur pengganti secara cepat, tanpa ruang refleksi yang memadai,” tambahnya.

Sebagai solusi untuk mencegah kekuasaan yang sepenuhnya dikendalikan oleh pihak asing, Prof. Zuly menekankan pentingnya peran masyarakat sipil yang independen.

Ia mengingatkan, tanpa pengawasan ketat, perubahan kepemimpinan ini justru akan menjadi awal dari masalah baru yang lebih besar bagi rakyat Venezuela.

“Harus ada kelompok kritis yang mengawal, mempertanyakan, dan mengawasi. Jika tidak, transisi ini hanya akan melahirkan ketergantungan baru yang merugikan kedaulatan bangsa,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini