Perambahan Hutan Marak di Jembrana, Petani Menjerit

7 Agustus 2015, 06:10 WIB

Kondisi%2Bhutan%2Bsetelah%2Bdirambah%2B%25282%2529

Kabarnusa.com– Para petani di Jembrana, Bali sejak lama mengeluhkan aksi perambahan hutan (pengawen) yang semakin marak terjadi di Jembrana.

Aksi perambahan hutan tersebut untuk ditanami tanaman produksi, berdampak buruk terhadap pertanian di Jembrana. Terutama terkait pengairan, lantaran sumber air di hutan mengecil tiap tahunnya karena kondisi hutan yang gundul.

Petani sawah di Subak Penyaringan, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, mengaku kesulitan mengatur pola tanam padi di subak tersebut lantaran sumber air di hutan sangat kecil dan tidak mampu mengairi suruh subak yang ada di wilayah tersebut.

Lahan persawahan di subak nampak mongering. Padahal, puluhan hektar sawah telah ditanami padi. Lantaran kekurangan air, padi-padi yang baru berumur sebulan nampak menguning dan terancam mati.

Dahulu hutannya masih lebat dan belum dirambah, air yang mengalir ke seluruh sawah berlimpah, meskipun saat musim kemarau.

“Tapi belakangan ini air sangat kecil lantaran sumber air di hutan debitnya menurun tajam,” terang I Kadek Agus Mahendra, salah seorang petani di Subak Penyaringan, Kamis (6/8/2015).

Petani lainnya mengungkapkan, maraknya aksi perambahan hutan (pengawen) di hutan penyaringan akibat kurang tegasnya polisi hutan dalam menjaga kawasan hutan.

Bahkan menurut mereka polisi hutan cendrung membiarkan aksi perambahan tersebut.

“Memang sering ada polisi hutan yang masuk kawasan hutan Penyaringan, tapi mereka bukan untuk menertibkan aksi perambahan, tapi untuk munggut utpeti atau cuk dari para operambah hutan,” ujar petani lainnya.

Hutan yang dulunya lebat ditumbuhi pohon-pohon besar, kini berubah gundul dan ditanami pisang, cengkeh, coklat dan tanaman produksi lainnya. Yang diuntungkan dari aksi perambahan hutan tersebut adalah segelintir orang, sementara kelestarian subak terancam.

“Karena kesulitan air untuk mengaliri persawahan, petani banyak menjual sawahnya untuk dikalping-kapling dijadikan pemukiman. Kalau ini dibiarkan subak akan musnah,” pungkas petani lainnya.(dar)

Artikel Lainnya

Terkini