Sumedang Kembangkan Pengelolaan Sampah Organik Model Biokonversi “BSF Black Soldier Fly”

22 November 2020, 23:30 WIB

Untuk lebih mendalami perihal bagaimana pengelolaan sampah memakai model
BSF, digelar pelatihan yang digagas Prof. Agus Pakpahan salah seorang
pensiunan Kementrian Pertanin RI/Edah Jubaedah.

Sumedang – Kabupaten Sumedang terus mengembangkan pengelolaan sampah
organik model Biokonversi yang disebut Black Soldier Fly atau BSF.

Sesuai Visi Sumedang Simpati, memiliki persoalan yang tidak mudah dan tidak
gampang untuk urusan sampah. Sampah rumah tangga dan sampah industri menumpuk
di berbagai tempat. Kadang ada di pinggir jalanan umum, di sungai, kali juga
di kebun-kebun millik masyarakat. 

Tentu, hal ini berdampak pada berbagai hal. Jadi kalau inginn melihat Sumedang
untuk mencapai Sumedang Buludru tentu bukan hal mudah. Dalam kaiatan itu, DLHK
Sumedang mengambil langkah untuk bergerak bersama-sama masyarakat. 

Perlu ada inovasi dibalik keinginan itu, diantaranya adalah bagaimana memiliki
mesin organik yang efektif untuk bisa membangun ekosistem kembali. 

Dalam prinsip Rawayan Jati Sunda ada keseimbangan alam yang harus dijaga.
Ketik ekosistem dibngun kembali hal ini salahsatunya adalah untuk menciptakan
keseimbangan alam dan mengatasi permasalahan terutama permasalahan sampah yang
dihadapi Sumedang.

Magot.merupakan binatang pengurai yang efektif untuk bisa mengurai sampah
organik yang kini ada. Hal ini terbukti bahwa dalam perkembangannya mgot mampu
mengurai sampah organik berton-ton tidak dalam waktu yang lama. 

Menurut Dr. Melta Rini Fahmi, peneliti Kementrian Kelautan dan perikanan RI,
Magot ini sangat efektif untuk pakan ikan. Dari hasil penelitian ternyata masa
tumbuh kembang ikan yang diberi pakan Magot dan di beri pakan konvensional
sangat berbeda termasuk masa panen nya. 

“Magot ini memiliki nilai protein yang sangat tinggi diatas daging. Maka
ketika ini dikonsumsi manusia pun tidak masalah,” urainya. 

Untuk lebih mendalami perihal bagaimana pengelolaan sampah memakai model BSF,
digelar pelatihan yang digagas Prof. Agus Pakpahan salah seorang pensiunan
Kementrian Pertanin RI. 

Di masa pensiunnya ini, Agus ingin mendedikasikan dirinya untuk kemajuan
Sumedang. 

Maka dari itu DLHK dalam pelatihannya mendedikasikan diri dengan menyertakan
peserta dari Rumah Kompos, TPS3R, Lembaga Peduli lingkungan, SMK Pertanian,
desa dan lain sebagainya.

Pelatihannya terakhir Minggu (22/11/2020). semua pimpinan hadir seperti Bupati
H. Doni Ahmad Munir, Wakil Bupati Sumedang H. Erwan Setiawan, Sekda Sumedang
Drs. Herman Suryatman, dan Dandim Sumedang. 

Bupati Erwan memberikan semangat kepada para peserta pelatihan untuk nantinya
dapat menerapkan pengetahuan, ketrampikan untuk membantu mengatasi persoalan
sampah. (dah)

Artikel Lainnya

Terkini