Tren Negatif Berlanjut, PSIM Jogja Resmi Hentikan Kerja Sama dengan Pelatih Kepala Jean Paul

Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno, menjelaskan langkah pemutusan hubungan kerja dengan pelatih kepala Jean-Paul van Gastel diambil demi kebaikan dan keberlangsungan masa depan tim berjuluk Laskar Mataram tersebut.

18 Oktober 2026, 05:07 WIB

Yogyakarta-Manajemen PSIM Jogja secara resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala (head coach) Jean-Paul van Gastel. Keputusan tegas ini diambil manajemen setelah menggelar evaluasi mendalam serta melangsungkan silaturahmi bersama Wakil Wali Kota Yogyakarta dan perwakilan suporter Brajamusti serta The Maiden.

Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno, menjelaskan langkah pemutusan hubungan kerja ini diambil demi kebaikan dan keberlangsungan masa depan tim berjuluk Laskar Mataram tersebut.

“Oleh sebab itu, saya dan PSIM memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan Coach Jean Paul,” tegas sosok yang akrab disapa Cik Liana ini dalam konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta, Sabtu (17/10/2026).

Kendati menghentikan kerja sama dengan pelatih kepala, Cik Liana memastikan jajaran staf kepelatihan lainnya tidak mengalami perombakan mendasar. Pelatih fisik dan pelatih kiper dipastikan tetap berada di posisinya untuk mendampingi tim.

“Terkait dengan supporting team, sementara ini untuk pelatih fisik dan pelatih kiper kita tidak melakukan tindakan tertentu. Jadi, cuma memang khusus kepada pelatih kepala saja yang kita akhiri kerja samanya,” jelasnya.

Untuk mengisi kekosongan kemudi tim dalam beberapa laga mendatang, manajemen menunjuk Coach Guntur bersama tim analis sebagai caretaker atau pelatih sementara. Di saat yang sama, manajemen bergerak cepat memburu pelatih kepala definitif baru sesuai batasan regulasi yang berlaku.

“Secara regulasi itu kan sebulan ya. Jadi kita harus bekerja keras untuk mencari pengganti barunya dalam jangka waktu secepatnya. Harus secepatnyalah kita bergerak,” tambah Cik Liana.

Dalam kesempatan tersebut, Cik Liana menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pendukung setia Laskar Mataram atas deretan hasil kurang memuaskan sejauh ini. Ia menegaskan komitmen dan jiwanya tidak pernah letih untuk membawa PSIM tetap bertahan dan bersaing di kasta tertinggi Liga 1. Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan moral yang diberikan Pemerintah Kota Yogyakarta di tengah dinamika tim.

“Bapak sebagai leader kota ini, saya tidak tahu harus berterima kasih bagaimana, karena dukungan moral dari Bapak kepada tim PSIM Jogja sangat berarti dan berharga sekali untuk kami,” tuturnya.

Menanggapi situasi ini, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, berharap dinamika internal tim dapat disikapi secara bijak oleh seluruh pihak, khususnya jajaran pendukung dan suporter.

“Pemerintah kota tentu sangat berharap PSIM ke depan bisa maju, tetapi yang kami butuhkan saat ini adalah bentuk dukungan support dari para suporter yang positif. Kami berharap suporter memberikan doa dan dukungannya kepada manajemen PSIM supaya kita bisa lebih baik lagi,” ujar Wawan.

Keputusan manajemen mengakhiri masa jabatan pelatih asal Belanda tersebut merupakan buntut dari hasil negatif yang terus menimpa tim.

Pada laga pekan kesembilan di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Jumat (16/10/2026), PSIM kembali harus menelan pil pahit usai ditundukkan PSM Makassar dengan skor 1-2. Hasil ini memperpanjang tren buruk Laskar Mataram yang belum meraih satu pun kemenangan sejak awal musim.

Pada pertandingan tersebut, PSIM hanya mampu memperkecil kedudukan melalui eksekusi penalti Ze Valente. Walaupun PSM harus bermain dengan 10 pemain di penghujung laga akibat kartu merah, PSIM gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain hingga peluit panjang dibunyikan.

Sebelum resmi berpisah, Jean-Paul van Gastel sempat menyuarakan kekecewaannya atas hasil pertandingan tersebut. Ia menilai timnya dinaungi ketidakberuntungan sekaligus mempertanyakan sejumlah kepemimpinan perangkat pertandingan, termasuk proses gol pertama PSM yang dinilainya diawali dari bola throw-in yang sudah keluar garis.

“Sepertinya kami sedikit kurang beruntung. Kami memasukkan lebih banyak penyerang dan meminta bek sayap bermain lebih ofensif. Namun, pada gol pertama, Raca melakukan lemparan ke dalam tetapi bola sudah berada di luar lapangan. Meski begitu, situasi tersebut berujung gol,” pungkasi Van Gastel dalam keterangannya usai laga, Jumat (16/10/2026).

Selain itu, Van Gastel juga menyoroti durasi injury time selama tujuh menit yang dinilainya terlalu singkat jika dibandingkan dengan penghentian laga akibat pengecekan VAR yang memakan waktu hingga 11 menit.**^

Berita Lainnya

Terkini