Yogyakarta– Teka-teki penyebab tumbangnya puluhan mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menjalani kegiatan di RSJ Ghrasia mulai menemui titik terang.
Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY kini tengah berpacu dengan waktu, melakukan penyelidikan epidemiologi sembari menanti hasil uji laboratorium.
Meski publik menanti jawaban cepat, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, dr. Ari Kurniawati, menegaskan bahwa kesimpulan medis tidak boleh diambil tergesa-gesa. Perlu waktu sekitar tujuh hari untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Direktur RSJ Ghrasia, dr. Akhmad Akhadi S, menjelaskan kerumitan di balik meja laboratorium. Bukan sekadar pengamatan singkat, sampel makanan harus melalui proses mikrobiologis yang mendalam.
“Kami harus membiakkan kuman dari sampel makanan pada media khusus. Sampel tersebut harus masuk inkubator selama 5 hingga 7 hari sampai kuman berkembang cukup banyak untuk bisa diidentifikasi di bawah mikroskop,” jelas dr. Akhmad.
Kepastian medis baru akan tegak jika terdapat kecocokan (identitas kuman yang sama) antara sisa makanan yang dikonsumsi dengan sampel muntahan atau feses dari para korban.
Kasus yang menimpa 22 mahasiswa saat kegiatan Early Clinical Exposure (ECE) pada akhir Desember lalu ini tidak hanya dilihat dari sisi medis, tetapi juga kemanusiaan.
Menariknya, pihak penyedia jasa boga (katering) ternyata juga menjadi korban dari hidangan yang mereka buat sendiri.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, pihak penyedia makanan telah berkomitmen untuk:
Menanggung biaya pengobatan korban yang tidak ter-cover oleh BPJS.
Terlibat aktif dalam proses pemulihan kesehatan para mahasiswa.
Kooperatif dalam penyelidikan yang dilakukan sejak Jumat (2/1).
dr. Ari Kurniawati menekankan risiko kontaminasi selalu mengintai jika standar sanitasi diabaikan.
“Penyedia pangan punya kewajiban mutlak memenuhi standar pengemasan dan sanitasi. Ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal keselamatan nyawa konsumen,” tegas dr. Ari.
Dinkes DIY pun kini menggencarkan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna memutus rantai kejadian serupa di masa depan.
Hingga saat ini, status kasus masih dalam penyelidikan epidemiologi. Masyarakat dan keluarga besar UNISA diharapkan tetap tenang sembari menunggu hasil resmi laboratorium yang dijadwalkan keluar dalam pekan ini. ***

