Malam Penuh Kehangatan dan Busana Memukau: Pesona Journey of Wastra Hiasi Pantai Kuta di Discovery Kartika Plaza Hotel

Ketua Dekranasda Bali Ni Putu Putri Suastini Koster mengatakan Kain-kain tenun tradisional itu kebanggaan dan Bali memiliki banyak punya tenun, mulai dari Karangasem, Sembiran yang daerah-daerah pesisir, Buleleng, Jembrana, itu punya ciri masing-masing.

3 Oktober 2026, 09:18 WIB

Badung -Destinasi wisata ikonis Pulau Dewata kembali menjadi saksi perhelatan akbar yang memadukan keindahan seni, kekayaan warisan budaya, dan tren gaya hidup moderen.

Ajang bertajuk Journey of Wastra sukses digelar dengan penuh kehangatan di Beach Gate, Discovery Kartika Plaza Hotel, Bali, menghadirkan malam perayaan yang memukau bagi para pecinta fesyen dan pelancong.

Acara yang memadukan unsur pariwisata (travel) dan budaya ini tidak hanya menyuguhkan estetika visual busana tradisional, tetapi juga menghadirkan pengalaman liburan berkelas di tepi Pantai Kuta.

Para tamu undangan dan wisatawan yang hadir disuguhi rangkaian acara terpadu, mulai dari gelar wicara inspiratif hingga jamuan makan malam intim (intimate dinner) di bawah binar lampu tepi pantai.

General Manager of Discovery Kartika Plaza Hotel, Luis Daniel Garcia, mengungkapkan bahwa perhelatan ini lahir dari sebuah refleksi mendalam mengenai cerita, tradisi, serta ketrampilan pengerjaan warisan leluhur yang menjelma menjadi identitas budaya bangsa.

“Melalui kreativitas para desainer kami, kami berharap untuk melihat bagaimana warisan ini terus berkembang sambil tetap berakar pada budaya kami,” tutur Luis Daniel Garcia saat menyambut para undangan.

 

Pihaknya juga menambahkan, kehadiran Journey of Wastra menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menikmati Bali lebih dari sekadar keindahan alamnya, melainkan juga kekayaan seni kriya tekstil nusantara.

Kemeriahan malam tersebut semakin lengkap dengan digelarnya Wastra Fashion Showcase yang menampilkan kepiawaian para perancang busana dalam mengolah kain tradisional menjadi busana siap pakai yang elegan dan kekinian. Sentuhan motif lokal yang dipadukan dengan desain kontemporer berhasil memukau mata audiens yang hadir di area terbuka Beach Gate.

Sebelumnya, rangkaian acara ini juga dibuka dengan talkshow inspiratif bertajuk “Wastra for Market Readiness: Adapting Indonesian Wastra to Consumer Trends”.

Turut hadir dalam pembukaan acara Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ni Putu Putri Suastini Koster, sebagai keynote speaker utama. Sesi ini mengupas tuntas kesiapan wastra lokal untuk menembus pasar modern tanpa meninggalkan nilai-nilai filosofis dan pelestariannya.

Bagi para pelancong yang berkunjung ke Bali, kehadiran Journey of Wastra di Discovery Kartika Plaza Hotel membuktikan bahwa pariwisata budaya (cultural tourism) terus berinovasi memberikan pengalaman wisata yang bermakna.

Perpaduan antara kehangatan keramahan Bali, pemandangan laut Kuta, dan keagungan wastra nusantara sukses menciptakan kenangan perjalanan yang tak terlupakan.

Ketekunan yang merayakan dan berkutat dengan urusan kain tenun terus dijaga karena sudah lama tenun tidak kita angkat, diimpit oleh batik. Jadi, orang berpikir Indonesia itu hanya punya batik, sampai ada hari batik nasional.

Tapi belakangan, 10 tahun belakangan, mulai menggeliat. Dekranas pusat mulai mengangkat kita kaya dengan kain-kain tenun. Jadi, tenun, batik, lurik itu adalah teknik membuat motif di atas kain.

Termasuk juga sekarang, sudah mulai para perajin Bali itu mungkin bosan dengan kanvas, akhirnya melukis kain-kain untuk dijadikan busana.

“Sekarang kita fokus pada endek. Di era pemerintahan Bapak Gubernur Bali, I Wayan Koster, itu endek sudah memiliki, endek dan songket sudah memiliki perlindungan hukum berupa hak kekayaan intelektual komunal, “ tandas Putri Koster.

Jadi itu sudah ada perlindungannya. Jadi, mari bersama-sama kita jaga, jangan sampai karena pengaruh ekonomi itu kita bergerak menjauh dari yang namanya pelestarian. Jangan sampai kita yang memiliki, kita yang merusak kain kita sendiri, begitu.

Kain-kain tenun tradisional itu kebanggaan. Bali itu paling banyak punya tenun, mulai dari Karangasem, Sembiran yang daerah-daerah pesisir, Buleleng, Jembrana, itu punya ciri masing-masing.

“Orang yang memang berkutat di urusan tenun akan langsung tahu kalau melihat selembar kain, “Oh, ini Jembrana punya, oh, ini Nusa Penida punya.” sambung Putri Koster.

Kita punya rangrang, bahkan yang paling fenomenal di dunia, seperti yang sedang pakai ini, ini namanya gerising, ini double ikat.

“Bersyukur kita di Bali khususnya, itu memiliki karena teknik membuat motif di atas kain dengan double ikat ini sangat langka di dunia,” tandasnya.

Barangkali masih ada di bijanegara yang melakukan. Indonesia ada satu-satunya di Bali, dan di Bali pun hanya ada di Desa Tenganan

Gelaran Journey of Wastra selain  diskusi mendalam seputar kesiapan wastra di pasar modern, malam penuh kehangatan ini juga dimeriahkan oleh Wastra Fashion Showcase yang memukau, pengalaman budaya yang autentik, hingga intimate dinner yang merayakan kekayaan warisan budaya bangsa. ***

Berita Lainnya

Terkini