Kuta, Bali – Mamaka Fun Run Vol. 3 yang digelar Mamaka Hotels & Resorts pada Minggu, 18 Oktober 2026 ini bukan sekadar ajang olahraga untuk menjaga kebugaran atau menghabiskan pagi bersama komunitas.
Di balik setiap langkah para pelari Mamaka Fun Run ada misi yang lebih dalam: memperluas kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.
Setelah dua edisi sebelumnya menggalang dukungan bagi pendidikan anak-anak melalui Bali Children Foundation (BCF), Mamaka Fun Run kini membawa semangat berbagi ke ranah yang tak kalah penting, tetapi kerap luput dari perhatian, yakni kesehatan mental.
Kali ini Mamaka menggandeng Shuffle & Strides untuk mendukung perluasan Mental Health Awareness Training (MHAT), program pelatihan gratis selama dua hari yang membekali masyarakat dengan pengetahuan praktis untuk mengenali persoalan kesehatan mental dan memberikan dukungan awal kepada orang-orang di sekitarnya.
Pesannya sederhana: hidup sehat bukan hanya tentang tubuh yang bugar, tetapi juga pikiran yang terjaga dan kepedulian terhadap sesama.
Perjalanan Mamaka Fun Run menuju misi tersebut tidak terjadi dalam semalam. Ketika pertama kali digelar pada 2024, acara ini berangkat dari gagasan sederhana, mempertemukan orang-orang melalui kegiatan lari sejauh lima kilometer di sepanjang Kuta dan Legian. Hasil penggalangan dana disalurkan untuk mendukung program pendidikan BCF.
Setahun kemudian, antusiasme masyarakat meningkat. Mamaka Fun Run Vol. 2 pada 2025 diikuti lebih dari 700 pelari. Kategori lari yang semula hanya 5K berkembang dengan tambahan 10K. Suasana pantai Kuta pun menjadi lebih semarak dengan hiburan, Zumba, kegiatan keluarga, serta kehadiran berbagai komunitas lari.
Sejumlah komunitas turut meramaikan kegiatan tersebut, antara lain Shuffle & Strides, Indorunners Bali, CCRC, HOTR, Gianyar Runners, dan kelompok lari lokal lainnya. Seluruh hasil pendaftaran disumbangkan kepada BCF untuk mendukung inisiatif pendidikan.
Dari sebuah lari amal, Mamaka Fun Run perlahan berkembang menjadi ruang pertemuan komunitas yang menggabungkan olahraga, kebersamaan, dan aksi sosial. Pada edisi ketiga, energi yang sama diarahkan untuk menjawab kebutuhan yang lebih luas.
Pilihan pada kesehatan mental bukan tanpa alasan. Persoalan ini masih menjadi tantangan di Indonesia, sementara pemahaman masyarakat tentang cara mengenali dan meresponsnya perlu terus diperkuat.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi nasional sebesar 1,4 persen, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 15–24 tahun, yakni 2 persen. Sementara itu, survei kesehatan mental remaja nasional menemukan 5,5 persen anak berusia 10–17 tahun mengalami gangguan mental, termasuk kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan ADHD.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyoroti peningkatan persentase pelajar Indonesia berusia 13–17 tahun yang mengaku pernah serius mempertimbangkan bunuh diri, dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023. WHO menilai kondisi tersebut mempertegas kebutuhan akan akses terhadap dukungan kesehatan mental dan psikososial yang berkualitas.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental tidak cukup ditangani ketika seseorang sudah berada dalam situasi krisis. Pengetahuan dasar dan kepedulian dari lingkungan sekitar juga berperan penting, mulai dari mengenali perubahan perilaku, membuka percakapan tanpa menghakimi, hingga mengetahui kapan seseorang membutuhkan bantuan profesional.
Di sinilah Mamaka melihat kesempatan untuk memperluas makna kegiatan lari yang selama ini identik dengan kesehatan fisik.
“Bagi kami, memilih kesehatan mental untuk Mamaka Fun Run Vol. 3 adalah keputusan yang sangat alami,” kata General Manager Mamaka Hotels & Resorts, Joel Bartlett, Minggu, 18 Oktober 2026.
Menurut dia, Mamaka dibangun di atas pengalaman yang mempertemukan orang-orang melalui aktivitas, kebugaran, kuliner, hiburan, dan komunitas. Karena itu, kesejahteraan seharusnya tidak hanya dipahami dari sisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan pikiran.
Bartlett menyadari bahwa kesehatan mental bukan perkara yang selalu mudah dibicarakan. Melalui kegiatan ini, Mamaka ingin mendukung edukasi praktis agar masyarakat lebih percaya diri mengenali ketika seseorang sedang mengalami kesulitan dan memahami cara memberikan respons yang tepat.
“Fun Run memberi kami platform yang kuat untuk mempertemukan komunitas kami sekaligus membantu pengetahuan tersebut menjangkau lebih banyak orang,” ujarnya.
Dukungan itu diwujudkan melalui kemitraan dengan Shuffle & Strides, organisasi nirlaba yang mendorong kesadaran kesehatan mental lewat edukasi berbasis komunitas, aktivitas fisik, dan percakapan terbuka.
Salah satu programnya adalah MHAT, pelatihan yang dirancang untuk membuat pengetahuan kesehatan mental lebih mudah diakses masyarakat sekaligus membantu mengurangi stigma.
Dalam pelatihan selama dua hari tersebut, peserta mempelajari cara mengenali tanda dan gejala persoalan kesehatan mental yang umum, berkomunikasi dengan orang yang mungkin sedang mengalami kesulitan, serta memberikan dukungan awal secara tepat.
Peserta juga diperkenalkan dengan sumber daya dan pilihan perawatan kesehatan mental, termasuk kapan dan ke mana harus mencari bantuan profesional.
Pelatihan ini tidak dimaksudkan untuk menjadikan peserta sebagai tenaga profesional kesehatan mental. Tujuannya adalah membekali masyarakat dengan pemahaman yang lebih baik agar mereka dapat bersikap lebih peka dan membantu orang lain menemukan dukungan yang dibutuhkan.
Program tersebut ditawarkan secara gratis kepada masyarakat melalui Shuffle & Strides. Melalui Mamaka Fun Run Vol. 3, dana yang terkumpul diharapkan dapat mendukung terselenggaranya lebih banyak pelatihan sehingga manfaatnya menjangkau lebih banyak orang di Bali dan Indonesia.
Dengan demikian, kontribusi kegiatan ini tidak berhenti pada pembiayaan satu acara pelatihan. Dukungan yang terkumpul diharapkan membuka kesempatan bagi lebih banyak masyarakat untuk memperoleh pengetahuan yang dapat mereka bawa kembali ke lingkungan masing-masing.
Seorang peserta pelatihan, misalnya, dapat menerapkan pengetahuan tersebut di tempat kerja, keluarga, atau lingkaran pertemanannya.
Ia mungkin menjadi lebih peka terhadap perubahan perilaku seseorang, lebih berani memulai percakapan, atau lebih memahami cara mengarahkan orang yang membutuhkan bantuan kepada tenaga profesional.
Dari satu orang yang teredukasi, pengetahuan dapat menyebar kepada orang lain. Percakapan menjadi lebih terbuka, stigma perlahan berkurang, dan semakin banyak orang mengetahui ke mana harus mencari pertolongan.
Dampak berantai inilah yang ingin diperluas melalui kolaborasi Mamaka dan Shuffle & Strides. Terlebih, kemitraan keduanya bukan hubungan yang baru terjalin. Shuffle & Strides sebelumnya turut mendukung Mamaka Fun Run Vol. 2 pada 2025 bersama komunitas lari lainnya di Bali.
“Kami selalu percaya bahwa komunitas adalah jantung dari Mamaka Fun Run,” kata Bartlett.
Ia menilai kehadiran lebih dari 700 pelari pada edisi sebelumnya menunjukkan besarnya potensi ketika masyarakat bergerak bersama untuk mendukung sebuah tujuan. Tahun ini, semangat tersebut ingin dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan mental.
Peralihan dari dukungan pendidikan melalui BCF menuju edukasi kesehatan mental juga tidak berarti Mamaka meninggalkan prinsip yang selama ini mendasari kegiatan tersebut.
Selama dua edisi pertama, Mamaka Fun Run mendukung program pendidikan dan perbaikan sekolah bagi anak-anak di Bali.
Pada 2025, peserta juga diperkenalkan dengan kisah Giri, seorang siswa yang mendapat dukungan BCF untuk melanjutkan pendidikan dan kemudian mulai bekerja di Mamaka.
Kisah itu menjadi gambaran bagaimana akses terhadap pendidikan dapat membuka jalan menuju kesempatan yang lebih baik. Kini, semangat serupa diterapkan pada kesehatan mental: memberikan pengetahuan, memperluas akses, dan membantu membangun komunitas yang lebih kuat.
Bagi Mamaka, perubahan fokus tersebut merupakan kelanjutan dari keyakinan bahwa pendidikan dapat menciptakan dampak yang melampaui penerima manfaat secara langsung.
Lebih dari sekadar perlombaan, Mamaka Fun Run memang dirancang sebagai pengalaman komunitas yang mempertemukan pelari, keluarga, teman, wisatawan, warga lokal, klub lari, mitra, dan sponsor.
Perpaduan lari di kawasan pantai, hiburan, aktivitas kebugaran, dan suasana sosial menjadikan acara ini ruang untuk membangun hubungan sekaligus mendorong gaya hidup yang lebih sehat.
Namun, keberhasilan kegiatan ini tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta atau seberapa cepat mereka mencapai garis finis. Ada harapan agar setiap orang pulang membawa sesuatu yang lebih bermakna daripada pengalaman berlari.
“Kami tidak ingin dampak Mamaka Fun Run berhenti ketika orang-orang melewati garis finis,” ujar Bartlett.
Ia berharap peserta pulang dengan kenangan baik, koneksi baru, kebiasaan yang lebih sehat, atau pemahaman yang lebih baik tentang cara memperhatikan seseorang yang mungkin sedang tidak baik-baik saja.
Sebab, tidak semua persoalan terlihat dari luar. Seseorang yang tampak baik-baik saja bisa saja sedang menghadapi kesulitan yang tidak mudah diceritakan.
Dalam situasi seperti itu, kepedulian tidak selalu harus hadir dalam bentuk jawaban atau solusi. Terkadang, kesediaan untuk mendengarkan dan keberanian memulai percakapan sudah menjadi langkah awal yang berarti.
Itulah pesan yang ingin dibawa Mamaka Fun Run Vol. 3 dari jalanan Kuta ke kehidupan sehari-hari. Berlari bersama menjadi pintu masuk untuk membangun koneksi, belajar memahami kesehatan mental, dan menumbuhkan kepedulian terhadap orang-orang di sekitar.
Sebab, pada akhirnya, ada dampak yang tidak bisa diukur dengan jarak tempuh atau catatan waktu. Dampak itu hadir ketika seseorang menjadi lebih peka, ketika percakapan yang sebelumnya terasa sulit mulai terbuka, dan ketika orang yang membutuhkan bantuan tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
Tahun ini, Mamaka mengajak masyarakat berlari untuk sesuatu yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat berarti: kesehatan mental dan kepedulian terhadap sesama.***

