Air Hujan Bisa Dimanfaatkan di Tengah Fenomena La Lina

12 Oktober 2020, 06:05 WIB

Menurut Agus, dengan gerakan ini bermanfaat untuk berbagai hal, banjir
dan kekeringan berkurang, Kesehatan, pertanian dan perikanan meningkat,
air tanah dan alam terjaga, lingkungan sehat dan masyarakat
sejahtera./ist

Jakarta – Pada hujan berintensitas tinggi yang dipicu oleh fenomena La
Nina mungkin berdampak buruk kepada kehidupan masyarakat, air hujan dapat
dimanfaatkan untuk beberapa kebutuhan, disampaikan Peneliti Universitas Gadja
Mada Agus Maryono dalam diskusi virtual dalam konteks fenomena La Nina, pada
Minggu (11/10/2020).

Pemanfaatan tersebut sudah lama dilakukan di tengah masyarakat dengan istilah
panen hujan atau rainwater harvesting.

Saat melakukan panen hujan dikenal dengan langkah TRAP atau tampung dan
manfaatkan (T), resapkan ke tanah (R), alirkan ke drainase (A) dan pelihara
masyarakat (P). Air hujan yang turun dapat ditampung sebagai cadangan air.

Ia mengatakan, gerakan panen air hujan ini telah dilakukan berbagai komunitas
di banyak wilayah seperti di Jawa, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Papua dan
Sumatera.

Menurut Agus, dengan gerakan ini bermanfaat untuk berbagai hal, banjir dan
kekeringan berkurang, Kesehatan, pertanian dan perikanan meningkat, air tanah
dan alam terjaga, lingkungan sehat dan masyarakat sejahtera.

Berdasarkan catatan historis Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika
(BMKG), sepanjang terjadinya fenomena tersebut, umumnya 40 persen curah hujan
di atas normal, menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan, potensi
cuaca ini harus diwaspadai secara dini.

“Beberapa provinsi sudah memasuki musim hujan dan perlu diwaspadai hujan di
atas normal meskipun tidak sama di setiap wilayah,” ujar Dwikorita.

Lebih lanjut Dwikorita mengatakan bahwa dampak La Nina terhadap curah hujan di
beberapa wilayah Indonesia beragam. Berdasarkan analisis cuaca, bulan Oktober
dan November dampak fenomena ini di wilayah tengah dan timur.

Ia menyampaikan sekitar 27,5 persen wilayah diprakirakan akan mengalami hujan
lebih basah dari normalnya.

BMKG mengidentifikasi wilayah-wilayah pada kondisi tersebut antara lain Aceh
bagian utara, sebagian Sumatera Utara, Riau bagian Timur dan Selatan, Sumatera
Barat bagian timur, sebagian Jambi, Sumatera Selatan bagian timur, Lampung,
sebagian Jawa, Kalimantan bagian utara dan timur, Bali bagian barat, Sebagian
Nusa Tenggara, Pesisir barat Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian
selatan, Sulawesi barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat dan utara,
Gorontalo, Sulawesi utara bagian utara, Pulau Taliabu – Maluku Utara dan Papua
Barat bagian utara.

Sementara itu, prakiraan puncak musim hujan di beberapa wilayah Indonesia,
antara lain Pulau Sumatera diprakirakan mulai dari November, Jawa, Bali, Nusa
Tenggara umumnya pada Januari hingga Februari 2021, Kalimantan pada Desember
hingga Januari 2021, Sulawesi mulai dari Januari dan April 2021 dan Maluku dan
Papua mulai dari Januari dan Maret 2021.

Menyikapi fenomena La Nina, Dwikorita merekomendasikan dua hal. “Optimalisasi
tata Kelola air terintegrasi dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Dalam memonitor dan membangun kesiapsiagaan dini, setiap pihak dapat mengakses
aplikasi Info BMKG yang dapat memonitor prakiraan cuaca hingga tingkat
kecamatan.

Ini sangat bermanfaat untuk mempersiapkan dalam mengantisipasi potensi ancaman
bahaya hidrometeorologi serta mengurangi risikonya. (lif)

Artikel Lainnya

Terkini