Cerita Jurnalis RiauOnline yang Jadi Korban Kekerasan Aparat

7 Desember 2015, 19:27 WIB

Kabarnusa.com –  Zuhdi Febriyanto wartawan RiauOnline.co.id menjadi korban tindak kekerasan puluhan polisi saat kericuhan Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Gelanggang Remaja, Pekanbaru, Sabtu (5/11/2015)lalu. Akibatnya, Zuhdi mengalami luka berat dibagian kepala dan sempat tidak sadarkan diri.

“Saat ini Zuhdi sudah menjalani perawatan di Rumah Sakit, sudah ditangani medis dengan dua jahitan di kepala, dokter masih melakukan observasi,” papar Pemimpin Redaksi RiauOnline.co.id  Fakhrurodzi.

Seorang wartawan yang menyaksikan peristiwa itu, Ratna Sari Dewi memberi kesaksian, insiden menimpa korban, bermula saat terjadi ricuh antara polisi dan mahasiswa sekira pukul 13.40 WIB di depan gerbang Gelanggang Remaja.

Hanya saja, dia tidak mengetahui persis persoalannya, kecuali melihat rekannya sesama wartawan Zuhdi Febriyanto menjadi bulan-bulanan puluhan polisi, dengan pentungan dan pukulan.

Korban yang tidak berdaya lalu ditinggalkan begitu saja. Sedangkan rekan jurnalis lainnya langsung menolong dan membawanya ke rumah sakit, menggunakan mobil bak terbuka.

“Kepalanya banyak mengeluarkan darah, kami langsung larikan ke rumah sakit,” kata Ratna dilansir RiauOnline.

Dikatakannya, saat itu, polisi sempat menghalang-halangi kerja wartawan mengambil gambar.

“Saya disergah mengambil foto, setelah berhasil memotret saya langsung menghindar,” sambung Ratna.

Senada itu, kesaksian disampaikan jurnalis lainnya Adrian Syarif, menuturkan meski Zuhdi sudah memperlihatkan kartu identitasnya, tapi polisi tidak peduli dan terus memukulinya.

Saat itu, polisi malah berceletuk tidak peduli dengan wartawan. “Ketika itu polisi malah bilang gak ada wartawan, wartawan, wartawan dari mana kalian,” ucapnya menirukan kata-kata aparat baju coklat itu.

Adrian mengatakan, rombongan polisi itu marah ketika pewarta merekam aksi pemukulan mahasiswa yang dilakukan oleh polisi dengan cara brutal.

Para petugas itu, hendak merampas kamera wartawan dan meminta foto dihapus. Saat itu, korban tetap mempertahankan telefon seluler yang digunakan memotret.

“Mereka meminta kamera wartawan dan menginginkan gambar dihapus,” ucapnya. Zuhdi, yang menjadi bulan-bulanan polisi, jatuh pingsan dengan kondisi kepala berdarah.

“Kami langsung larikan ke rumah sakit,” ucap Adrian.

Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau Satria Batubara mengatakan perlakuan polisi itu, melanggar Undang-Undang Pers karena mencoba menghalangi tugas wartawan.

Bukan hanya itu, tindakan polisi yang melakukan kekerasan fisik sebagai perlakuan kriminal.

Pemimpin Redaksi RiauOnline.co.id Fakhrurrodzi menyayangkan aksi pemukulan itu. Pihaknya akan melanjutkan kasus ini ke ranah hukum.

Ia akan melaporkan kejadian itu dengan didampingi Lembaga Hukum Pers Pekanbaru dan PWI Riau.

“Kami mengutuk tindakan polisi. Kami akan bawa kasus ini ke ranah hukum,” tutupnya. (ari)

Artikel Lainnya

Terkini