Dari Nelayan Menjadi Penjaga Penyu, Pertamina Patra Niaga Perkuat Konservasi Berbasis Masyarakat di Pantai Biaung

17 Oktober 2026, 13:05 WIB

Denpasar – Kepedulian terhadap penyu lekang (Lepidochelys olivacea) yang rutin mendarat untuk bertelur di Pantai Biaung, Desa Kesiman Kertalangu, Bali, telah mengubah peran sekelompok nelayan menjadi penjaga konservasi.

Melalui Program Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Fuel Terminal (FT) Sanggaran mendampingi Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Sari Segara Kesiman Kertalangu untuk memperkuat perlindungan penyu sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir.

Ketua POKMASWAS Sari Segara Kesiman Kertalangu, I Made Bagus Mahayana, menuturkan keterlibatan masyarakat berawal dari kepedulian sederhana terhadap lingkungan sekitar.

“Awalnya kami adalah nelayan. Karena sering melihat penyu naik ke Pantai Biaung untuk bertelur, kami mulai ikut mengamankan telur-telurnya. Dari situ kami belajar memantau sarang, merelokasi telur yang berisiko ke tempat penetasan, hingga nantinya tukik menetas dan dilepasliarkan kembali,” ujarnya.

Pendampingan FT Sanggaran kemudian memperkuat kapasitas kelompok dalam pemantauan sarang, relokasi telur, pengelolaan hatchery, pencatatan perkembangan telur, hingga pelepasliaran tukik.

Hingga tahun 2026, ribuan tukik berhasil menetas dan dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Program ini juga meningkatkan kapasitas 13 anggota POKMASWAS dalam menjalankan pengelolaan konservasi secara lebih terstruktur.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dari komitmen perusahaan menjaga keanekaragaman hayati melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

“Pertamina berkomitmen mendukung pelestarian keanekaragaman hayati melalui program yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama konservasi. Melalui pendampingan POKMASWAS Sari Segara Kesiman Kertalangu, kami mendorong peningkatan kapasitas masyarakat, pemanfaatan inovasi teknologi, serta pengembangan edukasi dan aktivitas ekonomi alternatif yang selaras dengan prinsip konservasi. Dengan demikian, upaya menjaga kelestarian penyu dapat berjalan beriringan dengan penguatan kemandirian masyarakat pesisir,” jelasnya.

Selain keterampilan teknis, pendampingan juga diarahkan untuk memperkuat keberlanjutan kegiatan konservasi melalui sistem pemantauan, pemanfaatan teknologi, serta sarana edukasi yang memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perlindungan penyu dan habitat pesisir.

Pendekatan berbasis masyarakat ini menempatkan warga sebagai pelaku utama dalam perlindungan penyu, mulai dari pemantauan sarang hingga pelepasliaran tukik.

Dengan penguatan kapasitas dan pendampingan berkelanjutan, masyarakat diharapkan dapat terus menjaga ekosistem pesisir Pantai Biaung sekaligus melestarikan satwa dilindungi tersebut.***

Berita Lainnya

Terkini