Demam Tren Lari Anak Muda, Pakar UGM Wanti-Wanti Risiko Cedera Otot hingga Jantung

Guru Besar Fisiologi Olahraga Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM., secara khusus menyoroti adanya potensi kesalahan fatal yang kerap dilakukan oleh para pelari pemula.

25 September 2026, 19:22 WIB

Fenomena lari atau running saat ini tengah menjadi tren gaya hidup di tengah masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Semangat mengikuti berbagai ajang lomba lari (race) mulai dari kategori 10 kilometer, half marathon, hingga full marathon kian membuncah.

Kendati demikian, di balik tingginya antusiasme tersebut, kalangan akademisi dan pakar kesehatan olahraga mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar ikut-ikutan tren tanpa mengukur kesiapan fisik secara matang.

Guru Besar Fisiologi Olahraga Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM., secara khusus menyoroti adanya potensi kesalahan fatal yang kerap dilakukan oleh para pelari pemula.

Menurutnya, nekat terjun langsung ke ajang lari jarak jauh tanpa persiapan bertahap justru mengintai bahaya serius bagi kesehatan tubuh.

“Tidak pernah olahraga, ikut tren. Sekarang trennya lari 10 kilo, half marathon, full marathon. Dia belum pernah menyiapkan sejak awal. Nah, yang terjadi adalah kerusakan-kerusakan pada ototnya,” ujar Prof. Denny saat dikonfirmasi wartawan Jumat (25/9/2026).

Prof. Denny menjelaskan struktur anatomis tubuh manusia memerlukan proses adaptasi secara fisiologis dan bertahap sebelum menerima beban latihan fisik yang tinggi.

Apabila tubuh langsung dipaksa melampaui batas kapasitas tanpa adanya pembiasaan, tekanan ekstrem tidak hanya merusak jaringan otot, tetapi juga membebani sistem kerja jantung dan pembuluh darah secara drastis.

Bagi masyarakat awam yang berstatus bukan sebagai atlet profesional, ia menyarankan agar porsi latihan harian diatur secara bijak dan terukur. Latihan dengan intensitas tinggi diingatkan agar tidak dilakukan secara terus-menerus setiap hari.

“Kalau tubuhnya dipacu terus dengan intensitas tinggi, terus-terusan lima kali dalam satu minggu, maka sistem tubuhnya yang kemudian akan kelelahan,” ungkap Prof. Denny memperingatkan risiko kelelahan kronis atau overtraining.

Sebagai panduan ideal, pihaknya menganjurkan masyarakat untuk melakukan latihan aerobik—seperti lari santai (jogging), bersepeda, atau berenang—sebanyak 3 hingga 5 kali dalam sepekan dengan durasi berkisar antara 30 hingga 60 menit per sesi. Sementara itu, porsi latihan intensitas tinggi cukup diselipkan maksimal dua kali saja dalam sepekan.

Sebagai indikator pemantau yang mudah dipraktikkan secara mandiri, intensitas latihan sedang ditandai dengan kondisi saat seseorang masih mampu berbicara dalam kalimat yang utuh tanpa merasa terengah-engah secara berlebihan ketika bergerak.

Selain menjaga kapasitas kardiovaskular, Prof. Denny juga menekankan pentingnya mengombinasikan agenda olahraga dengan latihan kekuatan (strength training). Upaya ini diperlukan guna memperkuat kelompok otot pendukung agar terhindar dari risiko cedera sendi. Latihan beban tersebut dapat dilakukan secara praktis dengan memanfaatkan berat badan sendiri (body weight training) seperti push-up, sit-up, squat, dan lunges, maupun dengan menggunakan alat bantu tambahan di pusat kebugaran.

Investasi Jangka Panjang Menghadapi Era Aging Society

Lebih lanjut, Prof. Denny mengingatkan bahwa orientasi berolahraga hendaknya tidak sekadar mengejar gengsi medali finisher atau pencapaian di ajang perlombaan semata. Konsistensi menjaga kebugaran jasmani sejak usia muda merupakan bentuk investasi kesehatan jangka panjang yang krusial, terlebih di tengah proyeksi Indonesia yang kini mulai memasuki fase struktur penduduk menua (aging society).

Secara ilmiah, fungsi organ vital dan kapasitas fisik manusia akan mencapai titik puncaknya pada rentang usia 20 hingga 30 tahun, sebelum kemudian berangsur-angsur mengalami penurunan alami seiring bertambahnya usia. Kendati demikian, laju penurunan fungsi fisiologis tersebut dapat diperlambat secara signifikan melalui penerapan pola hidup aktif, konsistensi berolahraga, kecukupan asupan nutrisi seimbang, kualitas tidur yang baik, serta kemampuan mengelola stres harian.

“Kesehatan dan kemandirian, baik kesehatan fisik, kesehatan mental, kemampuan kognitif, itu yang menunjang kemandirian seseorang ketika usia tua. Itu merupakan investasi yang sudah ditabung sejak dia masih muda,” terangnya menegaskan.

Meski demikian, bagi kelompok masyarakat yang baru berniat memulai gaya hidup aktif di usia senja, ia menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai bergerak. Berbagai manfaat positif olahraga akan tetap dirasakan oleh tubuh guna menjaga kebugaran fungsional, meskipun tingkat optimalisasi hasilnya tidak akan sama jika dimulai sejak usia dini.

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk olahraga. Memulai olahraga sejak dini akan menjadi investasi yang terbaik untuk kesehatan di masa yang akan datang,” pungkas Prof. Denny.

Berita Lainnya

Terkini