Efisiensi Modal Kerja dan Akses Likuiditas: Tantangan Pembiayaan Usaha Dekorasi Dehana Decoration Melalui Skema KUR BRI

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan komitmen institusinya dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

21 September 2026, 13:15 WIB

Badung – Dinamika permodalan dalam industri jasa dekorasi pernikahan memerlukan manajemen arus kas yang ketat, mengingat karakteristik siklus modal yang bersifat pre-investment (investasi di muka).

Hal ini tercermin dari operasional Dehana Decoration, pelaku usaha mikro di Bali yang mengandalkan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI untuk memperkuat struktur permodalan kerja dan belanja aset produktif.

Pemilik Dehana Decoration, Nyoman Tangga Nalika, menjelaskan  struktur biaya pada bisnis dekorasi menuntut penyediaan properti dan material jauh sebelum pendapatan dari pesanan direalisasikan.

Dalam model bisnis ini, pengeluaran modal awal (capital expenditure) untuk pembuatan ornamen atau properti baru baru akan tertutup setelah melalui beberapa siklus penggunaan.

“Kalau pembuatan barang baru, kita bisa minus dulu. Kita harus jalanin sekitar lima kali dulu baru bisa balik modal,” ujar Tangga saat ditemui belum lama ini, menggambarkan perputaran modal yang memerlukan waktu agar mencapai titik impas (break-even point).

Dari sisi pengelolaan keuangan usaha, kebutuhan likuiditas tidak hanya dipengaruhi oleh volume pesanan bernilai kisaran Rp10 juta hingga ratusan juta rupiah per paket, tetapi juga oleh fluktuasi harga bahan baku penunjang seperti bunga segar, daun kelapa (busung/janur), dan ambu.

Guna menjaga margin laba dan daya saing, manajemen menerapkan strategi peninjauan harga secara berkala setiap enam bulan hingga satu tahun sekali, alih-alih melakukan penyesuaian harga secara instan setiap kali terjadi kenaikan biaya bahan baku.

Untuk mengoptimalkan kapasitas produksi—terutama dalam menghadapi musim puncak pesanan (peak season)—Dehana Decoration memanfaatkan fasilitas pembiayaan KUR BRI sebesar Rp25 juta.

Suntikan likuiditas ini dialokasikan untuk memperkuat likuiditas dan memperluas kapasitas aset produktif. Ke depan, manajemen membidik ekspansi plafon pembiayaan hingga di atas Rp50 juta guna mengakselerasi skala usaha dan memperkaya variasi inventaris properti dekorasi.

Menanggapi peran sektor perbankan dalam mendukung ekosistem ekonomi kerakyatan, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan komitmen institusinya dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurutnya, penguatan permodalan merupakan katalis penting untuk mendongkrak produktivitas sektor riil.

BRI terus berkomitmen untuk hadir di tengah masyarakat, khususnya para pelaku usaha mikro dan kecil, melalui akses pembiayaan yang dapat mendukung pengembangan usaha.

“Kami berharap dukungan permodalan dan pendampingan yang diberikan dapat membantu pelaku usaha untuk terus bertumbuh, meningkatkan produktivitas, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian keluarga dan masyarakat di sekitarnya,” ujar Hery.

Melalui sinergi antara optimalisasi instrumen pembiayaan berbunga rendah seperti KUR dan ekspansi pasar lokal yang didorong oleh pertumbuhan industri pariwisata serta budaya Bali, sektor jasa pendukung pernikahan dinilai memiliki kontribusi strategis dalam menggerakkan rantai pasok ekonomi lokal dan penyerapan tenaga kerja di tingkat akar rumput.***

Berita Lainnya

Terkini