Garis Pantai Kuta Menyusut 1,9 Meter per Tahun, Megawati Peringatkan Bahaya Global Warming

11 Oktober 2026, 19:43 WIB

Badung -Ancaman perubahan iklim dan pemanasan global (global warming) kian nyata merusak kawasan pesisir Bali. Kondisi abrasi di Pantai Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, dilaporkan semakin mengkhawatirkan pada 2026 ini, dengan laju kemunduran garis pantai diperkirakan mencapai 1,9 meter per tahun.

Fenomena yang dipicu oleh pengaruh cuaca ekstrem dan gelombang laut kuat tersebut menarik perhatian Presiden RI ke-5 yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri. Menggandeng Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Megawati meninjau langsung kondisi fisik pesisir Pantai Kuta pada Minggu (11/10/2026) siang.

Di sela-sela peninjauannya, Megawati memperingatkan seluruh pihak agar tidak menganggap remeh dampak pemanasan global terhadap wilayah kepulauan seperti Indonesia.

“Ingat, ancaman dari global warming, pencairan es di kutub kian terasa bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Bertahun-tahun lalu sudah dibahas dan kita sebagai penerus harus mampu mencari solusi terbaik,” tegas Megawati.

Ia menekankan bahwa penanganan abrasi tidak bisa dilakukan secara parsial atau sekadar jangka pendek, melainkan butuh pendekatan ilmiah yang terpadu. Lembaga riset, akademisi, kementerian, dan pemerintah daerah diminta mengesampingkan ego sektoral dalam merumuskan solusi berbasis inovasi teknologi.

“Orang-orang pintar di lembaga, kementerian, harus memahami bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Jadi jangan berpikir seperti menangani benua atau daratan kontinental. Kerjanya jangan sepotong-sepotong,” lanjutnya.

Laju abrasi setinggi 1,9 meter per tahun di Pantai Kuta tak hanya menyempitkan hamparan pasir tempat beraktivitas wisatawan, tetapi juga merusak sejumlah fasilitas publik, termasuk jalur pejalan kaki dan tembok pembatas. Jika dibiarkan, kerusakan ini berpotensi mengganggu aktivitas pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Bali.

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum Bidang Hubungan Antarlembaga, Triono Junoasmono, menguraikan bahwa secara keseluruhan sekitar 30 persen dari total garis pantai Bali sepanjang lebih dari 1.300 kilometer telah terdampak abrasi. Hingga saat ini, pemerintah masih memikul pekerjaan rumah untuk menangani sekitar 85 kilometer garis pantai yang tersisa.

Sebagai langkah konkret di Kuta, pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) bersama pemda melanjutkan pembangunan pemecah gelombang (breakwater) di bagian selatan pantai guna meredam energi gelombang laut.

“Pantai di Bali adalah aset strategis, bukan sekadar untuk wisata, tetapi juga menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Triono.

Ia berharap kunjungan Megawati bersama jajaran BRIN dapat mempercepat koordinasi lintas sektor dalam menyelamatkan pesisir Bali dari dampak perubahan iklim.kuningan

Berita Lainnya

Terkini