Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara resmi membuka peluang investasi dan kemitraan strategis di sektor budidaya perikanan nila (tilapia) serta rumput laut dari hulu hingga hilir.
Penawaran ini disampaikan kepada para investor dan peserta yang hadir dalam ajang Indonesia–Europe Business Forum (IEBF) 2026 yang berlangsung di Tangerang, Banten.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan pentingnya keterhubungan antara kawasan budidaya perikanan di hulu, industri pengolahan, dan akses pasar.
Menurutnya, integrasi ini krusial agar hasil panen mampu memberikan dampak dan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar bagi para pembudidaya lokal.
“Melalui Indonesia–Europe Business Forum 2026, kita dapat duduk bersama, berdiskusi, dan berkolaborasi untuk menemukan solusi terbaik yang saling menguntungkan,” ujar Menteri Trenggono dalam keterangannya di Jakarta.
Untuk mendukung komitmen tersebut, KKP telah menyiapkan serangkaian program prioritas. Di antaranya adalah revitalisasi tambak Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat khusus untuk komoditas tilapia, pembangunan tambak budidaya udang terintegrasi di Waingapu, serta pengembangan budidaya ikan darat tematik di berbagai wilayah Pulau Jawa.
Sementara untuk komoditas rumput laut, penekanan dilakukan pada peningkatan produksi guna mendukung percepatan program hilirisasi nasional.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, TB Haeru Rahayu, menjelaskan pengembangan komoditas tilapia di Pulau Jawa dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri sekaligus memasok bahan baku industri pengolahan. KKP membuka pintu ruang kemitraan di berbagai rantai pasok.
“Peluang kemitraan yang dapat dibangun mencakup peningkatan mutu benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, serta ketertelusuran produk (traceability),” ungkap TB Haeru Rahayu.
Adapun untuk komoditas rumput laut, kemitraan difokuskan pada penyediaan bibit berkualitas, penerapan mekanisasi serta teknologi budidaya modern, hingga perbaikan proses pengeringan dan penyimpanan hasil panen.
Penguatan dari hulu ke pascapanen ini dinilai sangat penting untuk menjaga konsistensi mutu bahan baku sekaligus menciptakan produk bernilai tambah tinggi di pasar global.
Dari sisi pelaku usaha, potensi ekspor perikanan Indonesia menunjukkan tren positif. Perwakilan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Andhi Trapsilo, memaparkan nilai ekspor tilapia Indonesia pada periode Januari–November 2025 berhasil mencapai US$ 87,57 juta.
Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan pangsa 51,7 persen, disusul Kanada (24,7 persen), dan Uni Eropa sebesar US$ 7,13 juta (8,1 persen).
Andhi menambahkan, nilai ekspor tilapia Indonesia mencapai US$ 6,98 per kilogram—angka tertinggi dibandingkan eksportir utama dunia lainnya seperti China, Kolombia, Vietnam, dan Taiwan. Hal ini menandakan bahwa tilapia asal Indonesia diakui sebagai produk kelas premium di pasar internasional.
“Nilai tersebut mencerminkan posisi tilapia Indonesia sebagai produk premium, sekaligus membuka peluang perluasan pasar bernilai tinggi. Kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan seluruh pelaku industri tilapia di Indonesia,” kata Andhi.
Selain keunggulan harga, industri tilapia Indonesia juga telah menerapkan prinsip ramah lingkungan berbasis zero waste.
Selain fillet sebagai produk utama, bagian lain seperti kulit dan sisik diolah menjadi bahan baku kolagen dan gelatin, sedangkan sisa lainnya dimanfaatkan menjadi tepung serta minyak ikan.
Di sisi lain, Perwakilan Indonesian Tropical Seaweed Association (INTROSEA), Artati Widarti, menyampaikan pemanfaatan rumput laut Indonesia kini tidak lagi terbatas pada produk hidrokoloid seperti karaginan dan agar.
Peluang pengembangannya sangat luas, mencakup produk pangan, kosmetik, farmasi, bioplastik, hingga bahan pendukung sektor pertanian dan perikanan. Keragaman aplikasi ini menjadi modal besar untuk memperluas jangkauan pasar internasional.
“Kemitraan Indonesia–Eropa dapat dikembangkan melalui perdagangan produk turunan, penelitian, investasi, dan pengolahan. Dukungan pengujian mutu, pemenuhan standar, dan akses pasar juga sangat diperlukan agar produk kita semakin berdaya saing,” jelas Artati.
Artati menutup dengan menekankan bahwa sinergi antara pembudidaya, pelaku industri, peneliti, dan pemerintah merupakan kunci utama dalam memanfaatkan peluang kerja sama global ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.***

