Surabaya– Stunting masih menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia. Meski data Kementerian Kesehatan tahun 2025 menunjukkan angka prevalensi turun ke level 19,8%, realitanya tetap menantang: satu dari lima bayi yang lahir di tanah air masih terancam gagal tumbuh.
Pemerintah memang telah memasang target ambisius melalui Perpres Nomor 72 Tahun 2021 untuk menekan angka tersebut hingga ke kisaran 14%. Namun, mengapa target ini terasa begitu berat dicapai?
Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum., Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, melihat ada sisi yang sering terlupakan dalam perang melawan stunting: faktor kebudayaan.
Selama ini, stunting selalu diposisikan sebagai masalah medis murni yang solusinya hanya soal bagi-bagi makanan bergizi. Namun, Prof. Purnawan mengingatkan bahwa intervensi gizi tidak akan maksimal jika tidak menyentuh akar perilakunya.
‘Makanan bergizi adalah kunci, tapi tidak semua orang punya pengetahuan untuk memilihnya. Banyak orang memilih jenis makanan bukan berdasarkan kandungan gizinya, melainkan karena kebiasaan yang didapat secara turun-temurun,”* jelas Prof. Purnawan.
Dalam perspektif ilmu budaya, makan bukan sekadar kegiatan biologis, melainkan perilaku yang diwariskan.
Di daerah tandus misalnya, konsumsi singkong dan jagung tanpa pendamping protein seringkali dianggap sebagai kewajaran sejarah, bukan kekurangan gizi.
Salah satu tantangan terbesar adalah keberadaan mitos yang masih “menjajah” meja makan para ibu hamil.
Di berbagai pelosok Indonesia, kepercayaan lama sering kali melarang ibu hamil mengonsumsi makanan tertentu yang justru sebenarnya sangat dibutuhkan.
“Banyak yang percaya makan ikan laut bikin bayi bau amis, atau buah tertentu bikin keguguran. Kepercayaan tanpa landasan ilmiah ini sangat merugikan karena membuat ibu hamil dan janin kekurangan nutrisi penting di masa emas mereka,” tambah Prof. Purnawan.
Ironisnya, di era digital, mitos-mitos lama ini justru mendapat amunisi baru lewat penyebaran hoaks. Rendahnya literasi kesehatan membuat persepsi individu yang keliru dengan cepat berubah menjadi kepercayaan komunitas.
Jika stunting adalah bagian dari problem budaya, maka solusinya pun harus dilakukan dengan cara-cara kebudayaan.
Prof. Purnawan menekankan perlunya sebuah “Strategi Kebudayaan”—yakni upaya kolektif untuk merancang jalan baru bagi masa depan bangsa.
Hal ini berarti pemerintah dan pemangku kepentingan tidak bisa hanya berperan sebagai “pemberi bantuan makanan”, tapi juga sebagai agen pengubah pola pikir.
Masyarakat perlu diberikan keyakinan baru berbasis pengetahuan ilmiah bahwa gizi adalah kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar.
“Strategi kebudayaan mutlak dilakukan jika kita ingin menciptakan manusia Indonesia yang unggul. Kita harus mengubah cara pandang masyarakat terhadap apa yang mereka makan demi generasi emas 2045,”* pungkas pria asal Banjarnegara Jawa Tengah ini.***

