Jembrana— Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi memulai proyek modernisasi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Kabupaten Jembrana, Bali, yang ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking).
Proyek bernilai tidak kurang dari Rp1,2 triliun ini dirancang untuk mentransformasi pelabuhan tersebut menjadi kawasan industri perikanan modern terintegrasi skala global sekaligus menjadi pusat ekonomi baru di wilayah timur Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menjelaskan bahwa pengembangan PPN Pengambengan diproyeksikan memberikan dampak multiplier effect yang signifikan, termasuk potensi penyerapan hingga 25 ribu tenaga kerja.
Selain menjadi tempat bersandar bagi kapal-kapal besar—termasuk kapal penangkap tuna yang sebelumnya dipusatkan di Pelabuhan Benoa—pelabuhan ini akan memadukan konsep industri higienis dan pariwisata.
”Diprediksi kira-kira sekitar 25 ribu orang. Saya minta nanti sebaiknya memang pelaku yang bekerja di sini ya orang Bali. Harus orang Bali, supaya mereka dapat pekerjaan dengan baik, dilatih dan dididik dengan baik,” tegas Menteri Trenggono.
Ia menambahkan bahwa pembangunan terpadu ini bertujuan memodernisasi fasilitas perikanan agar lebih bersih, higienis, dan kompetitif di pasar internasional.
“Pembangunan ini, selain menjadi bagian untuk pengembangan ekonomi, harapannya adalah tempat yang dikombinasikan antara industri perikanan yang modern, berikut juga dikombinasikan dengan pariwisata,” ujarnya.
Langkah modernisasi ini disambut positif oleh komunitas nelayan lokal yang selama ini dihadapkan pada persoalan pengangguran musiman (paceklik) serta keterbatasan infrastruktur pelabuhan. Kehadiran fasilitas pendukung seperti pabrik es, cold storage, hingga area perbaikan kapal dinilai menjadi solusi nyata untuk menjaga kestabilan pendapatan masyarakat sekitar.
Anan, seorang nelayan kapal selerek yang telah 11 tahun melaut di Pengambengan, menaruh harapan besar bahwa proyek ini dapat membuka peluang kerja alternatif ketika cuaca buruk atau musim paceklik tiba.
“Harapan saya mudah-mudahan ini menjadi satu solusi yang bagus ya, karena nantinya pasti lapangan pekerjaan akan dibuka lebih banyak lagi,” kata Anan. “Jadi tidak perlu harus menganggur sekian lama ketika musim paceklik ikan, ada lapangan pekerjaan khususnya untuk penduduk lokal. Harapan saya, nelayan khususnya nelayan lokal itu bisa semakin sejahtera,” lanjutnya.
Dukungan serupa disampaikan oleh I Ketut Sumajaya, nelayan kapal selerek berpasangan dengan pengalaman melaut 15 tahun. Menurutnya, pendangkalan kolam labuh selama ini menjadi kendala utama dalam proses bongkar muat dan distribusi hasil tangkapan.
“Ini adalah momen yang kami tunggu-tunggu sebenarnya dari tahun 2020. Kendala kami di sini banyak sekali, pelabuhan ini tidak memadai untuk bongkar ikan. Nelayan berharap dengan adanya pelabuhan yang modern, kami gampang mengakses bongkar muat dan mendistribusikan ikan ke wilayah pabrik maupun pengepul,” pungkas Sumajaya.

