Kolaborasi Ekologi dan Religi: Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Luncurkan Gerakan Bambuloka di Bali

Kementerian Pariwisata bersama Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) secara resmi memperkenalkan program Bambuloka di Pura Lempuyang Madya, Kabupaten Karangasem, Bali,

29 September 2026, 07:59 WIB

Karangasem — Upaya pelestarian lingkungan di Pulau Dewata kini menghadirkan pendekatan baru yang memadukan aksi ekologis dengan nilai-nilai spiritual. Kementerian Pariwisata bersama Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) secara resmi memperkenalkan program Bambuloka di Pura Lempuyang Madya, Kabupaten Karangasem, Bali, pada Sabtu (26/9/2026).

Program strategis ini dirancang untuk memulihkan kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) melalui penanaman bambu di lahan pelaba pura. Pemilihan lokasi di area suci ini bukan tanpa alasan; selain memperkuat cadangan air tanah dan mencegah potensi longsor, bambu juga diproyeksikan dapat menyediakan material yang berkelanjutan untuk keperluan upacara ritual umat Hindu.

Peluncuran perdana program iniberlangsung bertepatan dengan perayaan sakral rahina Purnama Kapat. Rangkaian kegiatan di Pura Lempuyang Madya diawali sejak pagi hari pukul 07.30 WITA melalui upacara penyucian bangunan suci seperti pecaruan, melaspas, dan mendem pedagingan, yang kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama.

Memasuki siang hari tepat pukul 12.00 WITA, rangkaian acara dilanjutkan dengan aksi penanaman bambu secara simbolis. Kegiatan penting ini dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi negara dan daerah, di antaranya Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, serta Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya.

Kehadiran para pemangku kebijakan dalam peluncuran ini memperkuat komitmen lintas sektor terhadap pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal. Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, mengapresiasi langkah nyata yang sejalan dengan penerapan falsafah Tri Hita Karana.

“Terima kasih, sekarang ada penanaman bambu untuk pelestarian lingkungan di Lempuyang. Matur suksma,” ungkap I Nyoman Giri Prasta saat memberikan sambutannya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menekankan pentingnya sinergi ini dalam menjaga keindahan serta keberlanjutan alam Bali agar tetap harmonis di masa depan.

“Mudah-mudahan dengan penanaman bambu yang bersama langsung dengan Pak Wagub hari ini, kita bisa melestarikan lingkungan Bali, menjaga keindahan Bali, membuat kebahagiaan untuk kita semua. Matur suksma Pak Wagub!” tutur Ni Luh Puspa.

Dari aspek ilmiah, bambu memiliki sistem perakaran serabut yang sangat padat dan efisien dalam mengikat tanah serta meresapkan air hujan ke dalam akuifer bumi.

Kepala Program YBLL, Nurul Firmansyah, menjelaskan bahwa pelibatan pura dalam program ini berhasil menyatukan dimensi ekologi dengan kosmologi keagamaan masyarakat setempat.

“Kegiatan ini adalah semacam penerapan Bambuloka pecah telur pertama di Pura Lempuyang. Pada intinya, proses ini sangat baik sekali karena para pihak di pura itu sudah menyadari bahwa penanaman bambu itu sangat baik untuk memperkuat aspek spiritualitasnya pura, karena air akan menjadi katalis untuk menghasilkan sumber-sumber mata air baru,” jelas Nurul Firmansyah.

Lebih lanjut, Pura Lempuyang Madya diposisikan sebagai model percontohan (pilot project) yang diharapkan mampu menginspirasi pura-pura lain di Bali. Terkait tata kelola, YBLL memastikan bahwa seluruh kepemilikan tanaman bambu sepenuhnya dipegang oleh pengelola pura dan masyarakat adat, di mana YBLL hadir mendampingi dari sisi penyediaan bibit unggul hingga transfer teknik budidaya.

Secara keseluruhan, inisiatif Bambuloka menargetkan area seluas 1.000 hektar yang tersebar di 11 pura besar di kawasan hulu DAS Ayung dan DAS Unda dengan total target penanaman mencapai 125.000 bibit bambu dan pohon.***

 

Berita Lainnya

Terkini