Universitas Dhyana Pura Ubah Sampah Upacara Pura Besakih Jadi Energi Terbarukan Lewat Program Teba Modern

Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Undhira, Dr. I Nyoman Purnawan menjelaskan, Pura Agung Besakih sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Bali menghasilkan volume sampah organik yang sangat besar setiap harinya, mulai dari banten, bunga, daun, buah-buahan, hingga janur dan bambu.

14 Agustus 2026, 06:44 WIB

Karangasem -Kawasan Suci Pura Agung Besakih di Kabupaten Karangasem, Bali, kini memiliki solusi inovatif dalam mengatasi persoalan sampah organik sisa upacara keagamaan.

Melalui skema hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali merealisasikan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan menerapkan teknologi “Teba Modern” untuk diolah menjadi biogas dan kompos.

Kegiatan ini dipimpin oleh dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Undhira, Dr. I Nyoman Purnawan, S.KM., MPH, bersama timnya, dengan menggandeng Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih sebagai mitra utama.

Dr. I Nyoman Purnawan menjelaskan, Pura Agung Besakih sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Bali menghasilkan volume sampah organik yang sangat besar setiap harinya, mulai dari banten, bunga, daun, buah-buahan, hingga janur dan bambu.

Selama ini, tantangan utama yang dihadapi pengelola kawasan adalah terbatasnya keterampilan pemilahan sampah di sumber serta potensi gangguan kesehatan lingkungan akibat penumpukan sampah.

Melalui penerapan Teba Modern yang terintegrasi dengan digester, kami berupaya membantu pengelola kawasan mengolah sampah organik secara mandiri langsung di sumbernya.

“Tujuannya tidak hanya menjaga kebersihan dan kesucian kawasan suci, tetapi juga mengurangi beban TPA serta mengubah limbah menjadi produk bernilai guna seperti kompos dan biogas,” ujar Dr. Purnawan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih, I Nyoman Artana, menyambut baik dan mengapresiasi kolaborasi bersama akademisi Undhira ini. Pihaknya menilai program tersebut sangat membantu operasional kebersihan di lapangan.

“Kehadiran program Teba Modern ini sangat membantu kami di Badan Pengelola. Selain mengurangi tumpukan sampah sisa upacara dan meminimalisir bau, program ini juga memberikan edukasi nyata bagi para pengelola untuk mewujudkan kawasan suci yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan,” ungkap I Nyoman Artana.

Pelaksanaan program PKM ini melibatkan sepuluh orang pengelola kawasan yang diberikan pelatihan intensif mengenai pemilahan sampah, penggunaan bioaktivator, hingga teknik pengoperasian Teba Modern.

Berdasarkan hasil evaluasi, tingkat pemahaman peserta melonjak signifikan dari nilai rata-rata 6,30 menjadi 9,40, dengan 90 persen peserta kini memiliki kategori pengetahuan yang baik.

Dari aspek infrastruktur dan lingkungan, tim pengabdian telah berhasil membangun 8 unit Teba Modern dengan kapasitas total 8 meter kubik serta memasang tujuh spanduk edukasi larangan membuang sampah sembarangan.

Tercatat sekitar 1.600 kg/m³ sampah organik berhasil diolah selama program berlangsung, yang secara langsung menekan volume pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Melihat keberhasilan yang telah dicapai, tim PKM Universitas Dhyana Pura merekomendasikan agar Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih dapat mengintegrasikan sistem Teba Modern ini secara permanen ke dalam operasional rutin kawasan.

Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah dan instansi terkait sangat diharapkan agar model pengelolaan sampah berbasis kearifan lokal Bali ini dapat direplikasi di kawasan suci serta destinasi wisata spiritual lainnya.

Partisipasi aktif dari masyarakat dan pemedek yang berkunjung juga menjadi kunci utama dalam menjaga kesucian dan kelestarian lingkungan Pura Agung Besakih ke depan.***

Berita Lainnya

Terkini