Pencuri Pasir Laut Digerebek Aparat Gabungan

11 April 2015, 07:33 WIB
penambangan%2Bpasir
ilustrasi

Kabarnusa.com – Setelah berulang kali mendapat sorotan dari banyak kalangan, akhirnya aksi pencurian pasir laut di Pantai Pekutatan, Desa Pekutatan, Kecamatan Pekuatan, Jembrana, Bali, Jumat (10/4) petang digerebek aparat gabungan.

Sayangnya, operasi yang melibatkan aparat gabungan dari Polsek, Koramil, Satpol PP Kabupaten, Kecamatan dan Desa setempat itu belum berhasil mendapatkan pelaku.

Namun sejumlah barang bukti dan timbunan pasir laut siap angkut diamankan petugas. Operasi yang digelar selama sekitar satu jam itu menyisir lokasi pantai yang sering digunakan untuk mengeruk pasir laut. Mulai pukul 17.00 hingga 18.15 wita, aparat gabungan menggerebek lokasi tersebut.

Namun, para pelaku yang biasanya sudah beroperasi sejak sore, sudah duluan kabur. Sejumlah alat angkut dari kayu diamankan petugas.

Camat Pekutatan, Ketut Eko Susila mengatakan operasi ini untuk menindaklanjuti penggalian pasir laut yang cukup meresahkan di Pantai Pekutatan.

“Operasi tersebut merupakan shock terapi pada para penggali dan berhasil mengamankan barang bukti milik beberapa pelaku,” katannya Jumat 10 April 2015..

Personil yang diterjunkan dalam operasi tersebut diantaranya 11 satpol kabupaten, 5 pol pp kec, 4 anggota polri, 1 TNI dan 3 Pecalang.

Aparat gabungan menggerebek lokasi penggalian di banjar Dangin Pangkung. Barang bukti menurutnya akan diproses lebih lanjut, termasuk pemilik truk akan dipanggil.

Barang bukti yang diamankan diantaranya Sekop sembilan, dua terpal, 14 gerobak angkut, satu pasang sandal, satu timba dan truk angkut DK 9560 WG. Truk tersebut masih dilokasi dan pemilik sudah diketahui identitasnya.

Untuk diketahui, aksi pencurian pasir laut secara liar ini terus terjadi bahkan bertahun-tahun.

Belakangan aksi pengerukan ini dilakukan terang-terangan saat sore hari. Apalagi malam hari, belasan sepeda motor turun ke laut mengangkut pasir laut untuk keperluan komersil.

Pihak desa setempat mengaku pasrah dengan kondisi tersebut karena yang berwenang merujuk Surat Keputusan Bersama (SKB) ada di desa adat. Tetapi desa adat juga belum memiliki awig-awig terkait pasir laut itu.(dar)

Artikel Lainnya

Terkini