Resmi Sandang Magister Kehutanan UGM Usia 22 Tahun, Ini Kisah Safiera Anindya

Selain resmi meraih gelar S2, Safiera juga dinobatkan sebagai lulusan S2 termuda pada Wisuda Program Pascasarjana Periode I Tahun Akademik 2026/2027 UGM.

5 November 2026, 17:16 WIB

Yogyakarta – Usia muda bukan menjadi halangan untuk meraih prestasi akademik tertinggi. Pembuktian ini dihadirkan oleh Safiera Anindya Syaafiyana yang berhasil menyandang gelar Magister Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) di usianya yang baru menginjak 22 tahun 1 bulan 20 hari.

Selain resmi meraih gelar S2, Safiera juga dinobatkan sebagai lulusan S2 termuda pada Wisuda Program Pascasarjana Periode I Tahun Akademik 2026/2027 UGM.

Capaian impresif ini ia raih melalui program fast track di Fakultas Kehutanan UGM, sebuah jalur percepatan yang memungkinkannya menempuh jenjang magister sejak menduduki semester tujuh program sarjana (S1).

Pencapaian Safiera terbilang luar biasa mengingat rata-rata usia dari 2.145 lulusan magister UGM pada periode wisuda kali ini berada di angka 29 tahun 6 bulan.

Perempuan yang kini meniti karier di perusahaan perkebunan karet Royal Lestari Utama tersebut mengungkapkan, dorongan terbesarnya mengambil jalur percepatan ini berangkat dari cita-cita mulia untuk berkarir sebagai akademisi dan peneliti.

Karena itu, saat peluang program fast track perdana di fakultasnya dibuka, ia tak ragu untuk langsung memanfaatkannya.

“Menurutku, pendidikan yang lebih tinggi dari S1 menjadi salah satu bekal untuk menekuni cita-cita itu. Jadi, ketika ada kesempatan mengikuti fast track, ya aku merasa program itu sejalan dengan tujuanku,” ujar Safiera, Kamis (5/11/2026).

Sebagai angkatan pionir program fast track di Fakultas Kehutanan UGM, perjalanan studinya tak lepas dari berbagai tantangan teknis maupun administratif, terutama terkait proses integrasi sistem akademik kampus.

“Karena masih angkatan pertama banget, ada banyak hal-hal yang tidak terpikirkan yang malah terjadi saat itu. Salah satunya aku pernah ada kendala di tabrakan mata kuliah S1 sama S2,” tuturnya mengenang masa-masa awal perkuliahan.

Meski dihadapkan pada beban perkuliahan ganda, Safiera tetap membuktikan kapasitasnya dengan aktif mengeksplorasi kegiatan di luar kampus.

Ia sukses menyelesaikan program pertukaran mahasiswa di National University of Singapore (NUS) selama satu semester, sekaligus menjalani magang di industri perkebunan karet pada semester tiga jenjang magisternya.

Kunci suksesnya dalam menjaga kinerja akademik di tengah kesibukan padat terletak pada kedisiplinan dan manajemen waktu yang terstruktur.

“Aku biasanya bikin to-do list mingguan. Dari situ, aku atur apa yang harus dikerjakan setiap hari dan kapan waktunya fokus ke tesis, kuliah, atau tugas lain. Jadi, semuanya bisa lebih terencana,” ucap Safiera.

Keberhasilan studinya juga tak lepas dari sokongan penuh lingkungan kampus, khususnya arahan dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Ronggo Sadono. Bimbingan intensif tersebut mengantarkannya merampungkan tesis berjudul “Pengembangan Kriteria dan Indikator Keberlanjutan Pengelolaan Hutan Adat: Studi Kasus Orang Rimba Jambi”.

“Bahkan ketika aku sedang ada kegiatan di luar kampus, beliau tetap membantu supaya proses studi dan penyusunan tugas akhirku bisa berjalan,” tambahnya.

Menutup pengalamannya, lulusan termuda UGM ini berpesan kepada para mahasiswa agar tidak ragu mengeksplorasi potensi diri serta mengoptimalkan setiap peluang yang ada selama bangku perkuliahan.

“Manfaatkanlah kesempatan yang ada selama masih menjadi mahasiswa. Waktu itu nggak bisa diulang lagi. Jangan terlalu fokus sama suara-suara yang bikin kita ragu, tapi tetap terbuka untuk belajar dan mencoba hal baru,” tutupnya. ***

Berita Lainnya

Terkini