Sukses Ubah Plastik Jadi BBM, Kimnara Space di Tabanan Integrasikan Teknologi Pirolisis dengan Perarem Adat Bali

Vander Christian mengungkapkan fasilitas pengolahan sampah mandiri di kawasan ini telah beroperasi selama kurang lebih enam bulan. Menggandeng lembaga swadaya masyarakat (LSM) Get Plastic, fasilitas ini memanfaatkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik secara ramah lingkungan.

27 September 2026, 08:11 WIB

Tabanan– Ajang peluncuran Kimnara Space Launch Night — Sunset to Last Set di Kimnara Space, Desa Cepaka, Kabupaten Tabanan, Sabtu (26/9/2026), menjadi momentum penting bagi sinergi antara dunia usaha dan masyarakat lokal.

Dalam kesempatan tersebut, Vander Christian Head of Cepaka Village selaku pihak perwakilan Coco Development menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Desa Cepaka yang selama ini selalu terbuka dalam menjalin kolaborasi strategis.

Dia menegaskan  kehadiran mereka di Desa Cepaka merupakan wujud nyata komitmen perusahaan untuk bersinergi dengan pemerintah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten, dalam menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan daerah, khususnya penanggulangan sampah plastik di Bali.

Langkah ini juga dirancang agar mampu memberdayakan tenaga kerja lokal, membuka lapangan pekerjaan baru, serta mendorong kemajuan bersama bagi desa-desa yang menjadi lokasi pengembangan properti Coco Development.

“Filosofi yang selalu saya dan tim pegang adalah kami ingin menjadi tetangga yang baik. Sebagaimana tetangga yang baik, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi kita harus selalu bersinergi untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di desa dan berkolaborasi untuk menyelesaikan semua problem yang ada di desa,” ujar Vander Christian.

Sampah plastik dipanaskan pada suhu tertentu hingga menghasilkan empat jenis output utama, yakni solar, bensin, gas, dan black carbon/dok.kabarnusa

Sebagai bentuk nyata kontribusi sosial kepada masyarakat, pihaknya mengumumkan fasilitas tempat digelarnya acara yang dihadiri para tokoh dan rekan-rekan hari ini merupakan bentuk hibah dari Coco Development kepada Desa Cepaka.

Fasilitas tersebut nantinya akan dikelola secara bersama oleh pihak desa dinas dan desa adat demi kemajuan serta kesejahteraan warga setempat.

Dalam sesi pemaparan teknis,Vander Christian mengungkapkan fasilitas pengolahan sampah mandiri di kawasan ini telah beroperasi selama kurang lebih enam bulan. Menggandeng lembaga swadaya masyarakat (LSM) Get Plastic, fasilitas ini memanfaatkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik secara ramah lingkungan.

“Teknologinya namanya pirolisis. Yang develop mesinnya itu Get Plastic. Jadi kita bekerja sama dengan NGO yang namanya Get Plastic,” jelas dia.

Secara prinsip, sistem teknologi pirolisis memiliki keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan insinerator konvensional.

Jika insinerator menggunakan pembakaran dengan oksigen, pirolisis justru tidak menggunakan oksigen atau hanya menggunakan sedikit sekali oksigen sehingga prosesnya tidak menghasilkan asap.

Sampah plastik dipanaskan pada suhu tertentu hingga menghasilkan empat jenis output utama, yakni solar, bensin, gas, dan black carbon.

Hebatnya lagi, satu siklus proses pengolahan sampah plastik di fasilitas ini mampu menghasilkan sekaligus dua produk turunan bernilai ekonomis tinggi, yaitu bahan bakar minyak jenis bensin dan solar.

Operasional fasilitas pengolahan sampah ini dikelola secara profesional dengan memberdayakan sumber daya manusia setempat.

Saat ini, fasilitas tersebut mempekerjakan empat orang staf operasional didukung oleh dua unit armada truk sampah. Total alokasi anggaran untuk penggajian staf saja mencapai lebih dari Rp20 juta setiap bulannya, di luar biaya listrik dan operasional penunjang lainnya.

Untuk memastikan keberlanjutan program dalam jangka panjang, pihak manajemen bersama pemangku adat setempat berencana mengintegrasikan pengelolaan sampah ini ke dalam aturan adat lokal.

Ke depannya, hal itu akan dituangkan di dalam perarem—aturan adat Bali—di mana sampah-sampah, baik organik maupun anorganik, akan dipisah mulai dari sumbernya.

“Jadi, masyarakat yang ada di Desa Cepaka sudah mulai bisa memisahkan sampah-sampah jenis plastik yang bisa diolah di mesin pirolisis ini untuk dibawa ke sini, dimulai langsung dari level rumah tangga,” pungkas Vander Christian.***

Berita Lainnya

Terkini