![]() |
| Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati/ist |
Denpasar – Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau
Cok Ace menyampaikan harapan agar dibuat rumusan model pembangunan
berkelanjutan dengan mengintegrasikan unsur spiritual (kebahagiaan) sehingga
dapat direplikasi bagi masyarakat dunia.
“Semoga prosiding forum ini menjadi simbol persembahan Bali untuk dunia,”
tandasnya saat menyampaikan closing remarks dalam acara RICH 70 Tsinghua
Southeast Asia Cloud Forum yang bertemakan “Investing in People Planet
Prosperity For Our Future of Shared Happiness” melalui zoom meeting, Kantor
Diskominfos Prov Bali, Rabu (23/9/2020) malam.
Cok Ace menyampaiakn rasa bangganya pada peserta webminar dari seluruh dunia
digunakannya konsep Tri Hita Karana (THK) sebagai inspirasi bagi masyarakat
dunia untuk mengupayakan kebahagiaan sehingga mampu menggapai Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berfokus pada 3P; People, Planet, dan
Prosperity.
THK adalah sebuah filosofi Hindu-Bali untuk mencapai kebahagiaan dengan
menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.
“Saya berharap masyarakat Bali sebagai komunitas lokal yang menjalani Tri Hita
Karana dalam kehidupan sehari-hari dapat berkontribusi aktif dalam
pengembangan model-model pembangunan berkelanjutan di Bali hingga di seluruh
penjuru dunia,” jelasnya pada acara yang menghadirka puluhan pembicara
bergengsi dari seluruh dunia termasuk artis internasional dari Tiongkok
Michelle Yeoh.
Indonesia khususnya Bali kata dia, telah menjalin hubungan bilateral selama 70
tahun, dan forum ini merupakan salah satu bentuk kerjasama tersebut.
“Saya sangat mengapresiasi UID Foundation, Kura-Kura Bali, dan Tsing Hua
University yang telah berkolaborasi dalam mengadakan forum diskusi ini sebagai
wadah untuk menyinergikan neksus manusia (People), Bumi (Planet), dan
kemakmuran (Prosperity),” imbuhnya.
Menyinergikan 3P tersebut bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi di masa
pandemi seperti ini. Oleh sebab itu, ia merasa diperlukan sebuah unsur
tambahan yang dapat mendorong sinergi tersebut dalam tatanan ruang dan system
yaitu spiritualitas.
“Unsur ini tentu tak asing bagi masyarakat Bali. Kita senantiasa mengenal
dunia ini dalam dua dimensi ruang yang berbeda, namun saling terkait satu sama
lain, disebut sebagai sekala-niskala,” jelasnya.
Ia menilai tema diskusi forum hari ini sebenarnya beresonansi kuat dengan Visi
Pembangunan Bali, “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Sebuah visi yang
mengedepankan segala daya dan upaya demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat
Bali secara menyeluruh, serta menjaga keharmonisan alam Bali beserta isinya.
“Konsep kesejahteraan ala Bali Era Baru merupakan konsep kesejahteraan yang
menyeimbangkan unsur sekala (duniawi) dan niskala (spirit). Inti dari visi ini
sebenarnya berorientasi pada Tri Hita Karana,” terang guru besar ISI Denpasar
tersebut.
Pihaknya mengapresiasi peserta forum yang telah memberikan kontribusi aktif
berupa pemikiran dan perspektif yang berguna bagi masyarakat.
“Saya berharap forum ini mampu menghasilkan rumusan model pembangunan
berkelanjutan dengan mengintegrasikan unsur spiritual (kebahagiaan) sehingga
dapat direplikasi bagi masyarakat dunia. Semoga prosiding forum ini menjadi
simbol persembahan Bali untuk dunia,” tandasnya.
Rich 70 Tsinghua Southeast Asia Cloud Forum adalah sebuah forum diskusi yang
melibatkan berbagai pengambil kebijakan lintas batas untuk menciptakan solusi
bagi Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals).
Tema forum kali ini sangat relevan dengan kondisi di tengah pandemi saat ini
karena bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan dan tingkat spiritualitas
masyarakat.
Forum kali ini mendatangkan pembicara ternama dari seluruh dunia baik dari
Bank Dunia, pejabat setingkat Mentri, pejabat setingkat Gubernur serta para
tokoh ekonomi, budaya dan seni. (rhm)

