Wisatawan Keluhkan Harga Minuman di Malioboro, Pemkot Yogyakarta Turun Tangan

27 Oktober 2026, 21:25 WIB

Yogyakarta – Keluhan wisatawan terkait harga makanan dan minuman yang tidak wajar atau biasa disebut nuthuk kembali mencuat di kawasan Malioboro.

Seorang wisatawan melalui akun Threads @endahree membagikan pengalamannya saat harus membayar Rp40 ribu untuk dua gelas es jeruk, sementara total pesanan siomay dan ketoprak hanya Rp25 ribu.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan pihaknya langsung bergerak cepat dengan menerjunkan Satpol PP untuk menindaklanjuti laporan di lapangan serta mencari pedagang yang bersangkutan.

“Ya saya sudah tugaskan pada Pak Kasatpol PP untuk sweeping pedagang-pedagang nakal dan saya minta untuk dicari. Karena 1,5 tahun yang lalu kita sudah kasih informasi harga di masing-masing warung, dan itu Alhamdulillah sukses, tidak terjadi,” ujar Hasto di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Selasa (27/10/2026).

Hasto menyebutkan, dari hasil penyelidikan sementara, praktik tersebut diduga dilakukan oleh pedagang kaki lima (PKL), bukan warung permanen. Langkah pencegahan serupa yang pernah sukses diterapkan sebelumnya akan kembali diberlakukan untuk memberikan kepastian bagi wisatawan.

“Saya tengarai ini bukan di warungan tetapi cenderung kaki lima. Maka hari ini saya suruh Pak Kasatpol PP untuk mencari,” jelasnya.

Meski belum bisa berkomentar banyak terkait kewajaran harga Rp20 ribu per gelas es jeruk karena variasi penyajian minuman yang beragam, Hasto memastikan langkah pembinaan dan penataan ulang akan segera dilakukan.

“Karena terlalu banyak variasi minuman, saya tidak komentar dulu. Biar dipelajari dulu,” katanya. Ke depan, Pemkot Yogyakarta akan kembali mewajibkan para pedagang untuk memasang daftar harga secara transparan serta menyediakan nomor layanan darurat atau WhatsApp yang bisa dihubungi wisatawan secara real-time jika merasa dirugikan.

“Pasang transparan tarif dan nanti akan kita kasih nomor pemerintah kota yang bisa dihubungi apabila ada orang merasa dituthuk. Hubungi secara real-time biar kita bisa langsung meluncur ke lapangan,” tegas Hasto.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengingatkan para pelaku usaha di kawasan pariwisata agar senantiasa menjaga kenyamanan dan pelayanan kepada pengunjung.

Menurutnya, tindakan segelintir oknum pedagang dapat berdampak buruk dan merusak citra pariwisata Yogyakarta secara keseluruhan.

“Ini semua soal kesadaran kita. Usaha kita bisa berjalan karena wisatawan. Kalau mereka dibuat tidak nyaman, ke depan mereka tidak akan mau berkunjung lagi,” ungkap Made.

Ia menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan sektor pariwisata agar wisatawan tidak merasa kapok. Made mengimbau para pedagang agar menetapkan harga yang wajar dan tidak memanfaatkan situasi untuk keuntungan sesaat.

“Rezeki itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Jadi bagaimana kita melayani wisatawan dengan wajar. Jangan sampai satu kejadian di Malioboro membuat semua pedagang dicap sama, padahal itu hanya oknum,” pungkasnya.***

 

Berita Lainnya

Terkini