BI Dorong Pertumbuhan Inklusif di ISEF 2026, Diperkuat Inovasi UMKM Hijau Bali

22 Oktober 2026, 23:30 WIB

Jakarta – Bank Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional melalui rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC).

Pada 16 Oktober 2026, Bank Indonesia menyelenggarakan Business Deals Ceremony Pembiayaan dan Perdagangan Syariah sebagai momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pelaku usaha, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan dalam membangun ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, menekankan akses modal menjadi kunci peningkatan daya saing industri halal

.“Penguatan pembiayaan syariah yang terhubung dengan sektor riil sangat penting agar ekonomi syariah berkontribusi besar pada pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Solikin saat membuka seremoni kesepakatan bisnis di ajang ISEF ke-13.

Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam ekosistem ekonomi syariah, dengan posisi pertama pada modest fashion, ketiga pada makanan halal serta media dan rekreasi, serta keempat pada farmasi dan kosmetik.

Solikin menegaskan tiga prioritas pengembangan pembiayaan syariah, yaitu : Perluasan akses sektor unggulanInklusi keuangan syariah bagi  UMKM.

Senada dengan hal tersebut, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa hingga Agustus 2026, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 11,61% (yoy) menjadi Rp748,7 triliun dengan Non-Performing Financing (NPF) gross terjaga di level 2,3%.

“Kinerja positif ini menjadi peluang untuk memperluas pembiayaan bagi industri halal agar pelaku usaha, terutama UMKM, dapat meningkatkan kualitas produk, kapasitas usaha, dan jangkauan pasar,” jelas Dian.

Sebagai implementasi program SAPA SYARIAH dan PINISI 2026, seremoni ini mengonsolidasikan total komitmen kesepakatan mencapai Rp27,43 triliun.

Kesepakatan tersebut mencakup :  Pembiayaan proyek strategis: Rp19,40 triliunPasar uang & valas syariah: Rp5,32 triliunPembiayaan korporasi halal: Rp2,2 triliunLetter of Intent kerja sama UMKM dengan pembeli: Rp9,78 Pembiayaan.

UMKM & startup halal: Rp499,75 miliarBlended finance, Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS)

Semangat penguatan ekosistem ekonomi syariah juga tercermin dari langkah nyata di daerah. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mendapatkan apresiasi dari Departemen Ekonomi & Keuangan Syariah (DEKS) atas keberhasilan implementasi Program Inovasi UMKM Hijau Bali.

UMKM binaan KPwBI Bali, DINZ Handmade Bali, mendapat fasilitas showcasing khusus untuk menampilkan produk hasil pengolahan limbah produksi menjadi barang bernilai komersial.

UMKM DINZ Handmade Bali sukses menggunakan pewarna alami dalam setiap produknya serta memberdayakan kelompok wanita lokal guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menegaskan komitmen berkelanjutan BI Bali dalam mendukung UMKM hijau.

“Ke depan, kami akan terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem UMKM hijau di Bali untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Achris.***

Berita Lainnya

Terkini