Gangguan Pasokan BBM di Bali Jadi Momentum Percepat Transisi Energi Terbarukan

Executive Director Diaspora Carbon Action, Cindy Meilensun, menyatakan masalah kelancaran pasokan BBM mendesak Bali untuk mengoptimalkan potensi energi ramah lingkungan yang melimpah di wilayahnya.

15 Oktober 2026, 12:40 WIB

Denpasar– Gangguan pasokan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang melanda wilayah Bali dinilai menjadi momentum krusial bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan.

Ketergantungan yang tinggi pada bahan bakar fosil memperlihatkan kerentanan pasokan energi daerah, sehingga diversifikasi ke sumber energi bersih dinilai makin mendesak guna menjaga ketahanan ekonomi dan lingkungan Pulau Dewata.

Executive Director Diaspora Carbon Action, Cindy Meilensun, menyatakan masalah kelancaran pasokan BBM mendesak Bali untuk mengoptimalkan potensi energi ramah lingkungan yang melimpah di wilayahnya.

Hal tersebut disampaikannya di sela-sela aksi lingkungan penanaman mangrove bersama komunitas lokal di Bali pada Kamis (15/10/2026).

Menurut Cindy, pemanfaatan energi terbarukan harus disesuaikan dengan karakteristik alam Bali agar memberikan dampak langsung pada kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan.

“Transisi energi tidak hanya tentang mengurangi ketergantungan terhadap BBM, tetapi juga bagaimana kita membangun kemandirian energi masyarakat. Misalnya, melalui teknologi pengering kopi hemat energi dan pengolahan hasil perkebunan, yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi petani,” tegas Cindy.

Selain menopang sektor komoditas lokal, percepatan transisi energi juga dinilai berpeluang besar memperkuat sektor pariwisata berkelanjutan melalui pengintegrasian konsep Geo-Wellness.

Konsep ini memadukan potensi alam, aktivitas pertanian, dan pariwisata berbasis kesehatan serta kesejahteraan secara harmonis.

Namun demikian, Cindy menekankan proses transisi dan penerapan teknologi energi terbarukan di Bali wajib memperhatikan nilai-nilai budaya lokal.

Pengembangan inovasi energi bersih perlu dilakukan secara bertahap dengan menjunjung tinggi adat istiadat, kesucian kawasan, dan kearifan lokal.

Untuk itu, ruang dialog dan kolaborasi bersama masyarakat serta desa adat menjadi faktor kunci agar pemanfaatan energi terbarukan berjalan selaras dengan pelestarian alam dan tradisi Bali.

“Bagi Bali, transisi energi dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat ekonomi lokal sekaligus menjaga keseimbangan alam. Kita perlu terus membuka ruang kolaborasi agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, petani, dan generasi mendatang,” tambah Cindy.

Melalui sinergi antar-pemangku kepentingan, langkah diversifikasi ini diharapkan tidak sekadar menjadi respons atas gangguan BBM, tetapi wujud aksi nyata dari komitmen Bali World of Care dalam membangun masa depan Bali yang mandiri energi dan berkelanjutan.***

Berita Lainnya

Terkini