Wow..Pasar Hunian Hotel Bermerk di Asia Tenggara Capai Rp217 Triliun

6 November 2015, 07:35 WIB
Bill%2BBarnett%2B %2Bheadshot%2Bwhite%2Bbackground02
Managing Director C9, Bill Barnet

Kabarnusa.com
Pasar hunian berbentuk hotel di Asia Tenggara terus bertumbuh pesat
mencapai Rp 217 triliun dan diprediksi akan terus berkembang.

Gabungan
antara merek perhotelan internasional dan domestik serta pengembang
properti di Indonesia telah berkontribusi terhadap kemajuan industri di
wilayah tersebut, senilai Rp 31 triliun dalam bentuk properti yang
dijual.

Riset terbaru grup konsultan perhotelan berbasis di
Asia, C9 Hotelworks, ada sekira 28 ribu unit hunian lebih dengan merek
hotel, siap dijual di tujuh negara Asia Tenggara melalui 120 proyek yang
sedang digarap.

Indonesia merupakan pasar kedua terbesar di
Asia Tenggara, sebagaimanan tercermin 28 proyek baru yang siap
menyediakan hunian baru, Lokasi terpopuler di Indonesia untuk hotel
terdapat di Bali, Jakarta, Bintan dan Lombok.

Harga rata-rata
per meter persegi, untuk properti di tengah kota adalah 93 juta Rupiah
per meter persegi, sedangkan pada tujuan wisata, nilainya berkisar 58
juta Rupiah per meter persegi.  

Satu kunci pemicu pesatnya
gelombang pertumbuhan hotel tersebut adalah bertambahnya jumlah proyek
untuk berbagai kepentingan yang terdiri atas komponen hotel dan
perumahan.

Merek hotel ternama membantu penjualan properti
dengan harga premium, yang dalam hal pasar telah disamakan dalam bentuk
26% di lokasi resor dan 14% produk tengah kota, dibandingkan dengan
proyek mandiri.

Kepercayaan terhadap merek menjadi pengikat kuat dalam kerjasama hotel dan tempat tinggal baru.

Proyek
premium di Jakarta seperti Raffles yang dikembangkan Ciputra dan
baru-baru ini dibangun Langham Residences telah menunjukkan laju
penjualan pesat dalam harga tinggi.

Penawaran skala menengah
yang semakin banyak kini menciptakan kehadiran yang semakin luas di
daerah lain seperti Bogor dalam sektor hotel kondominium (kondotel).  

Menanggapi
riset tersebut, Managing Director C9, Bill Barnet mengatakan, pola
historis hotel dan perumahan, telah bergeser dari pantai dan tujuan
wisata dan kini menuju ke pusat kota.

“Pembeli gaya hidup
tradisional digantikan pembeli langsung, dengan segmen transaksi
terbesar ditunjukkan oleh Indonesia,” tutur Bill dalam siaran persnya diterima Kabarnusa.com Jumat (6/11/2015). 

Jelas
terlihat, harga tanah yang naik perlahan-lahan memicu pengembang untuk
menerapkan proyek untuk berbagai kepentingan dalam jumlah yang terus
bertambah.

Juga sering tertera pada iklannya, daya tarik olahraga dan wisata sebagai penawaran gaya hidupnya.”

Laporan
C9 Hotelworks menyoroti fokus ulang rantai perhotelan global yang telah
menyadari bahwa untuk memacu pertumbuhan, terutama menggandeng partner
pengembang properti residence hotel.

Kelompok utama dalam
sektor tersebut meliputi Louvre, Banyan Tree yang berasal dari
Singapura, Starwood, Shangri-La dan Ritz-Carlton.

Rantia hotel butik seperti Alila juga telah sukses mengembangkan propertinya dengan kerjasama bernilai tinggi.

Di Indonesia, pemain utama dalam segmen terdiri atas Archipelago, Tauzia dan Swiss-Belhotel.

Proyek baru di Indonesia yang kian bertambah jumlahnya terus meningkatkan kerjasama antar merek hotel.

Para pengembang begitu terpukul oleh level Dolar Amerika dan bertekad mengembangkan di pasar yang lebih luas,

oleh
karenanya, mereka melihat adanya gerakan pada aset hotel yang dapat
meringakankan resiko proyek dan mendapat pemasukan berkelanjutan.

Dengan
mengurai saluran proyek hotel, maka jelas terlihat proyek dengan jumlah
yang signifikan kini terdiri atas elemen akomodasi tradisional dan
tempat tinggal.

Diramalkan pengembangan proyek berbagai kepentingan di tengah kota akan terus berlanjut di beberapa tahun mendatang.

Dilaporkan pula terdapat suplai berlebih di sektor hotel kondominium (kondotel) di Bali.   

Sementara
hunian bermerek hotel menjadi produk unggulan industri perumahan, Bill
Barnett dari C9 dengan hati-hati menanggapi, “Siklus properti di Asia
dan Indonesia telah mengalami tipe proyek investasi seperti ini, pada
pertengahan 1990-an dan 2000-an.

“Karenanya sejarah terus berulang, maka kali ini dalam skala yang bisa dibilang lebih tinggi,” imbuh BIll.

C9
Hotelworks dipimpin oleh pendiri dan Managing Director Bill Barnett
yang telah mengantongi pengalaman selama lebih dari 30 tahun dalam
industri perhotelan dan perumahan.

Sebelum mendirikan C9 pada 2003 lalu, Bill memegang jabatan eksekutif senior di hotel, pengembangan dan manajemen aset.

Dirinya
dianggap sebagai yang berkuasa dalam dunia perhotelan dan telah duduk
di hampir semua kursi di seluruh hotel dan perumahan di dunia.

Bill
membagi wawasannya melalui presentasi pada konferensi dalam acara-acara
penting dan sejumlah publikasi  yang berhubungan dengan industri
tersebut.   www.c9hotelworks.com. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini