Bali ‘Cuan’ dari Pariwisata, Penyaluran Kredit Tembus Dua Digit

Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman, menjelaskan stabilitas sektor jasa keuangan yang terjaga memberikan ruang bagi perbankan untuk terus melakukan ekspansi kredit guna mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Bali.

6 Juli 2026, 09:27 WIB

Denpasar – Kinerja sektor jasa keuangan di Provinsi Bali menunjukkan resiliensi yang solid hingga kuartal kedua 2026.

Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat b pertumbuhan kredit menjadi motor utama penggerak ekonomi daerah, dengan catatan impresif pada sektor investasi dan sektor berbasis pariwisata yang tumbuh hingga dua digit.

Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman, menjelaskan stabilitas sektor jasa keuangan yang terjaga memberikan ruang bagi perbankan untuk terus melakukan ekspansi kredit guna mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Bali.

“Penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek di Bali tumbuh sebesar 9,14 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp147,64 triliun.

Hal ini menjadi bukti nyata kontribusi perbankan dalam membiayai ekspansi usaha.

Faktor pendorong utama pertumbuhan ini adalah peningkatan kredit investasi yang melonjak signifikan sebesar 16,82 persen yoy,” ujar Parjiman.

Dinamika ekonomi Bali yang didorong oleh sektor pariwisata menjadi katalis utama meningkatnya permintaan pembiayaan.

Parjiman menambahkan, sektor Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum mencatatkan penambahan nominal kredit terbesar, yakni mencapai Rp2,10 triliun atau tumbuh 15,46 persen yoy.

Pertumbuhan signifikan pada sektor akomodasi dan makan minum mencerminkan geliat sektor pariwisata Bali yang terus menguat. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan kebutuhan pembiayaan dari para pelaku usaha untuk mendukung operasional dan pengembangan kapasitas mereka,” jelasnya.

Selain itu, dukungan terhadap UMKM juga menjadi faktor krusial. Sebanyak 51,26 persen dari total kredit di Bali disalurkan ke sektor UMKM, dengan segmen usaha mikro yang mencatatkan pertumbuhan pesat sebesar 11,10 persen yoy.

Tidak hanya intermediasi perbankan, pertumbuhan ekonomi Bali juga tercermin dari tingginya antusiasme masyarakat terhadap instrumen investasi.

Jumlah investor pasar modal di Bali kini telah menembus angka 404.965 Single Investor Identification (SID), yang mencatatkan pertumbuhan double digit sebesar 32,06 persen yoy.

Pertumbuhan paling menonjol terjadi pada nilai kepemilikan saham yang melonjak 46,85 persen yoy menjadi Rp8,25 triliun.

Sementara itu, SID Reksa Dana menjadi produk dengan pertumbuhan tertinggi secara tahunan, yakni sebesar 31,75 persen yoy.

Meskipun penyaluran kredit tumbuh agresif, Parjiman memastikan kualitas kredit tetap terjaga dengan baik.

Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,60 persen, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Demikian pula dengan tingkat Loan at Risk (LaR) yang berhasil ditekan ke angka 9,47 persen, menunjukkan efektivitas penyelesaian restrukturisasi kredit yang dilakukan industri perbankan.

“Dengan bauran kebijakan yang tepat, pengawasan yang ketat, serta sinergi yang erat bersama Pemerintah dan pelaku industri, OJK optimis sektor jasa keuangan di Bali akan terus tumbuh secara berkelanjutan, kontributif, dan tetap stabil di tengah tantangan ekonomi ke depan,” demikian Parjiman.

Berita Lainnya

Terkini