Bali Utara Didorong Jadi Pusat Ekonomi Baru

5 November 2026, 13:50 WIB

Buleleng – Bali Utara didorong menjadi pusat ekonomi baru untuk mengurangi kesenjangan pembangunan dengan Bali Selatan. Strateginya meliputi penguatan konektivitas, pemerataan investasi, dan pengembangan industri pengolahan.

Hal itu mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) BALINOMICS Triwulan III bertajuk Penguatan Sumber Pertumbuhan Ekonomi Bali yang yang dibahas Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Kabupaten Buleleng di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Kamis (5/11/2026).

Mewakili Bupati Buleleng, Asisten II Setda Buleleng Putu Ayu Reika Nurhaeni mengatakan, pengembangan ekonomi Bali Utara perlu didukung konektivitas yang lebih kuat antara wilayah utara dan selatan.

Menurut dia, pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan penataan kawasan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Pengembangan ekonomi juga perlu bertumpu pada sektor unggulan Buleleng, seperti pertanian, perikanan, kebudayaan, dan pariwisata.

Di sektor pariwisata, pemerintah daerah tidak hanya perlu mengejar peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperpanjang lama tinggal mereka.

“Pengembangan pariwisata bukan hanya untuk jumlah wisatawan, tetapi juga untuk lama mereka tinggal. Dengan demikian, seluruh aktivitas tersebut dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Namun, kita tetap harus menjaga ekosistem pesisir dan lingkungan lainnya,” ungkap Reika.

Ia menambahkan, pengembangan sektor pariwisata, kelautan, dan pertanian harus saling terhubung. Strategi tersebut juga perlu dilengkapi target dan indikator yang terukur agar hasilnya bisa dievaluasi.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, pengembangan ekonomi Bali dibahas melalui empat fokus utama dalam rangkaian FGD BALINOMICS.

Keempat fokus tersebut meliputi pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, pemerataan investasi dan pembangunan infrastruktur, penguatan UMKM dan sektor produksi komoditas pangan, serta pengembangan potensi ekonomi Bali Utara.

Menurut Achris, investasi dan pembangunan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah karena aktivitas ekonomi belum merata antara Bali Selatan dan Bali Utara.

Kondisi tersebut perlu dibenahi agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah selatan.

Di sektor pariwisata, hasil diskusi juga mendorong dihidupkannya kembali forum Selasa Pariwisata sebagai ruang untuk membahas persoalan dan strategi pengembangan pariwisata Bali.

Sementara itu, penguatan UMKM dan produksi komoditas pangan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi lokal sekaligus mendukung pengendalian inflasi.

Achris mengatakan, Bali Utara dipilih sebagai fokus pembahasan kali ini untuk melihat langsung potensi sekaligus tantangan pengembangan ekonomi di wilayah tersebut.

Salah satu peluang yang disoroti adalah pengembangan industri pengolahan berbasis hasil pertanian dan kelautan.

Industri tersebut dinilai berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, salah satunya melalui pengembangan produk ekstrak alami dengan dukungan teknologi dan inovasi.

Dengan pengolahan di dalam daerah, komoditas pertanian dan kelautan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi bisa dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Pengembangan industri ini diharapkan membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Namun, Achris mengingatkan, pengembangan industri harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Sebab, kondisi alam Bali juga menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata.

“Harapannya, ini menjadi semangat bersama untuk mendorong pengembangan industri pengolahan yang memberikan nilai tambah, tetapi tetap menjaga lingkungan Bali. Potensi ekonomi harus dikembangkan tanpa merusak alam yang menjadi salah satu kekuatan utama pariwisata Bali,” jelas Achris. ***

Berita Lainnya

Terkini