Disesalkan, Pengambilalihan Paksa Hotel LV8

17 April 2014, 11:28 WIB
LV8
Hotel LV8 (Foto:KabarNusa)

KabarNusa.com, Denpasar – Upaya
pihak tertentu yang melakukan pengambilalihan secara paksa Hotel LV8 di
Loloan Yeh Poh, Kecamatan Kuta Utara, Badung disesalkan pihak owner
sebagai tindakan di luar hukum.

Berbagai
kejanggalan dibalik pengambilalihan resor mewah di Banjar Tegal Gundul,
Desa Tibubeneng, Kuta Utara itu, tercium sejak awal ketika sejumlah
tamu misterius berpura-pura menginap masuk hotel.

Empat
orang tamu check in dengan membawa KTP asal NTT menginap di dua kamar
pada 13 Desember 2014. Mereka diketahui bernama Jongki Fridik Asadoma,
Jayakusuma Wagang, Vincensius E, dan Abdul Kadir Duka.

Puncaknya,
ketika secara sepihak terjadi pengambilalihan manajemen di mana posisi
General Manager Affair LV8 diambil Yongki Dale.

Tidak
hanya itu, beberapa pria berbadan tegap hilir mudik ke hotel semakin
menambah tidak kondusifnya hotel bagi tamu yang menginap maupun para
karyawan.

Suasana semakin kurang kondusif. Pasalnya,
puluhan orang yang disebut-sebut dari salah satu ormas besar di Bali,
Selasa 15 April 2014 mendatangi Hotel LV8.

“Mereka masih siaga di Hotel LV8,” sebut seorang security dan staf hotel yang enggan disebutkan identitasnya, Kamis (17/4/2014).

 

Tentu
saja, suasana tidak kondusif itu membuat gusar Lena Chandra selaku
owner Hotel LV8 yang mengusung bendera PT Bali Unicorn lewat perusahaan
DC-1 Holding PTE Limited berkedudukan di Singapura.

Lena
merasa mencium ada ketidakberesan dengan kehadiran tamu misterius yang
hingga ini bertahan di hotel tersebut tanpa mau membayar dan kerap
bertindak kurang simpatik.

Tak ingin masalah
berlarut-larut, Lena Chandra menunjuk  Ketua Asosiasi Advokat Indonesia
(AAI) Humphrey R Djemat sebagai pengacara.

Menghindari
kesimpangsiuran informasi dan memberikan kejelasan kepada publik,
langsung diumumkan media massa soal kepemilikan yang sah berdasarkan
hukum.

Sebelumnya, massa berpakaian adat ringan
mendampingi Humphrey sempat menimbulkan suasana memanas sehingga Yongki
Dale meminta Humphrey agar meninggalkan hotel.

Satu kompi Dalmas Polres Badung disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gesekan.

Humphrey bersama massa, juga  sempat melakukan koordinasi di Kantor Perbekel Tibubeneng.

Saat
itu, hadir Kapolsek Kuta Utara Kompol Reinhard Habonaran Nainggolan,
Perbekel Tibubeng I Made Kamajaya, serta anggota DPRD Badung I Wayan
Puspa Negara.

Humprey mengatakan, pihaknya bermaksud
melakukan mediasi dengan sekelompok orang yang tinggal di hotel yang
hingga kini tidak mau membayar.

Ulah seperti itu  sebagai upaya pendudukan paksa yang telah dilakukan sejak Desember 2013.

“Kami ingin berbicara baik-baik dengan pihak-pihak yang di hotel, agar masalahnya tidak makin berlarut,” terangnya.

   

Dari
pembicaraan antara pengacara dengan Yongki selaku perwakilan managemen
hotel, beberapa hal diklarifikasi dengan sejumlah dokumen yang
menunjukkan kepemilikan hotel atas nama Lena Chandra.

“Kami
mengharapkan masalah diselesaikan secara benar, bukan dengan cara-cara
di luar hukum, seperti melakukan penguasaan secara fisik,” tegasnya
lagi. 

Kubu Yongki lantas menunjukkan surat pihak Lena
Chandra yang memuat bahwa terhitung tanggal 22 Februari 2014, pihak
Lena Chandra tidak bertanggung jawab atas segala bentuk pemesanan
ataupun pembayaran atas barang atau jasa melalui suplayer terkait.

Hal
itulah yang dijadikan dasar bagi Yongki untuk mengklaim surat itu
sebagai bukti penyerahan sepenuhnya tanggung jawab Hotel LV8 dari pihak
Lena Chandra.

Pertemuan mediasipun tak membuahkan
hasil lantaran masing-masing kubu kekeuh pada pendirian masing-masing
sehingga berjalan mentok. Menghindari keributan akhirnya Humprey memilih
meninggalkan lokasi dan menyesalkan kejadian tersebut. (rma)

Artikel Lainnya

Terkini