Surabaya – Tantangan industri media Indonesia semakin kompleks di tengah ketimpangan ekonomi digital, ketergantungan pada iklan pemerintah, dan perubahan perilaku konsumsi informasi.
Perusahaan pers dituntut mengembangkan sumber pendapatan yang lebih beragam tanpa mengorbankan independensi redaksi maupun kualitas jurnalistik, Rabu (28/10).
Hal tersebut mengemuka dalam Sesi Panel 1 Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Surabaya.
Diskusi bertema “Peta Ekosistem Informasi 2027: Siapa Bicara, Siapa Didengar?” menghadirkan Dahlan Dahi (Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers), Ika Karlina Idris (Associate Professor Monash University Indonesia), serta Dwi Eko Lokononto (CEOBeritajatim.com).
Dalam paparannya, Dahlan Dahi menyoroti ketimpangan distribusi nilai ekonomi dalam ekosistem digital. Ia menyebut nilai pasar iklan Indonesia mencapai sekitar Rp71,5 triliun, dengan 80 persen di antaranya dikuasai tiga platform digital.
“Media harus menanggung biaya produksi jurnalistik, mulai dari peliputan hingga verifikasi fakta, tetapi belum memperoleh bagian nilai ekonomi yang sebanding,” jelas Dahlan.
Kehadiran layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pengguna mendapatkan jawaban tanpa mengunjungi situs berita semakin menambah tantangan bagi bisnis media.
Dewan Pers melalui Komisi Digital dan Sustainability mendorong penguatan hak ekonomi atas karya jurnalistik serta kebijakan persaingan usaha yang sehat agar media memperoleh manfaat lebih adil dari konten yang diproduksi.
Sementara itu, Ika Karlina Idris menyoroti kerentanan media akibat tingginya ketergantungan pada iklan pemerintah. Berdasarkan penelitiannya, pada 2025 iklan pemerintah menyumbang rata-rata 45,85 persen dari pendapatan iklan media, bahkan mencapai 76,1 persen pada sejumlah media.
“Diversifikasi pendapatan perlu menjadi prioritas. Media harus melibatkan komunitas bukan hanya sebagai narasumber, tetapi juga mitra dalam mengembangkan ide liputan, memperkaya perspektif lokal, dan memperluas jangkauan informasi,” ujar Ika.
CEO Beritajatim.com, Dwi Eko Lokononto atau akrab disapa Cak Luki, membagikan pengalaman membangun perusahaan media bersama empat jurnalis lain dengan modal terbatas.
“Kami didirikan oleh lima jurnalis yang, mohon maaf, isi kantongnya juga enggak banyak,” kenang Cak Luki. Ia menilai reputasi, kepercayaan publik, dan kepedulian terhadap karyawan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan perusahaan.
Beritajatim.com menjaga komitmen untuk tidak terlambat membayar gaji selama sekitar 20 tahun, termasuk saat pandemi Covid-19 menekan industri media.
Untuk menghadapi perubahan teknologi, mereka mengembangkan produksi audio, studio, media sosial, serta memperluas layanan konsultasi komunikasi, media monitoring, dan social media monitoring.
Diskusi panel menegaskan keberlanjutan media tidak cukup hanya dengan meningkatkan pendapatan iklan. Perusahaan pers perlu memperkuat posisi ekonomi dalam ekosistem digital, mendiversifikasi sumber pemasukan, dan mengembangkan layanan baru sembari menjaga independensi redaksi serta kualitas jurnalistik.
Melalui IDMC 2026, AMSI mendorong pelaku industri media untuk membangun strategi transformasi yang sesuai dengan perubahan ekosistem informasi.
Tujuannya menjaga kelangsungan bisnis dan memastikan pers tetap mampu menyediakan informasi berkualitas bagi masyarakat.***

