Pesta Cerita 2026: Taman Budaya Yogyakarta dan Kementerian Kebudayaan Gelar Puncak Perayaan Sastra Berbasis Geomitologi

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menjelaskan perhelatan pesta cerita merupakan puncak dari Kegiatan Selebrasi Sastra Seni Budaya Tahun Anggaran 2026 yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik-BOP Museum dan Taman Budaya.

8 Oktober 2026, 14:11 WIB

Yogyakarta – Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersiap menggelar puncak perayaan sastra bertajuk Pesta Cerita.

Acara ini dijadwalkan berlangsung di kompleks TBY pada Jumat, 9 Oktober 2026, mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB, sekaligus menjadi muara dari rangkaian penulisan serta penjelajahan kreatif Program Tutur Tumurun 2026.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menjelaskan perhelatan ini merupakan puncak dari Kegiatan Selebrasi Sastra Seni Budaya Tahun Anggaran 2026 yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik-BOP Museum dan Taman Budaya.

Tradisi lisan bukan semata dongeng pengantar tidur, melainkan wahana penting bagi perekaman memori kolektif suatu bangsa.

“Di dalamnya tersimpan pengetahuan dan sejarah yang menjadi bagian dari identitas kita,” ujar Purwiati.

Ia menambahkan Program Tutur Tumurun hadir sebagai ruang perjumpaan lintas disiplin yang memadukan sains kebumian dengan khazanah kearifan lokal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui sudut pandang geomitologi.

Direktur Program Tutur Tumurun, Latief S. Nugraha, menuturkan bahwa kekayaan bentang alam Yogyakarta memiliki keterikatan yang erat dengan warisan budaya serta situs kebumian yang mendasari filosofi Nagari Ngayogyakarta.

“Geomitologi mengkaji bagaimana budaya masa lalu mencatat lanskap dan fitur geologi. Di balik mitos fenomena alam, tersimpan pengetahuan serta alat komunikasi masyarakat lampau. Sastra dalam konteks ini hadir sebagai sains yang dituturkan dengan bahasa yang lain,” jelas Latief.

Pesta Cerita sekaligus menjadi ajang penganugerahan bagi para peserta sayembara penulisan yang telah berproses sejak Juli 2026. Dari total 75 naskah karya penulis muda DIY berusia 17 hingga 35 tahun—yang sebelumnya telah mengikuti lokakarya bersama Paksi Raras Alit, Raudal Tanjung Banua, dan Herlina Tiens—dewan juri yang terdiri dari Ramayda Akmal, Mahfud Ikhwan, dan Hasta Indriyana telah menyaring 10 karya nomine hingga akhirnya menetapkan 5 karya terbaik.

Menghidupkan Folklor Lokal dalam Konteks Kekinian

Perwakilan dewan juri, Hasta Indriyana, mengungkapkan bahwa membaca puluhan naskah sayembara memberikan pengalaman batin tersendiri dalam menyusuri peta mitologis Yogyakarta. Berbagai folklor lokal dari lima kabupaten/kota di DIY turut diangkat oleh para peserta, mulai dari larangan memandikan ternak di hilir Sungai Gajahwong (Imogiri Timur), mitos larangan eksploitasi tambang di sekitar Waduk Sermo (Kulon Progo), folklor Gunung Merapi seperti Kyai Petruk, hingga mitos goa di Gunungkidul.

Kendati demikian, Hasta menekankan kunci kemenangan karya terletak pada kepiawaian peserta meracik folklor agar relevan dengan dinamika zaman sekarang.

“Pemenang nomor satu, bahasanya sederhana dan mengalir. Dia berani menginovasi cerita rakyat berdasarkan konteks zaman sekarang, misalnya dikaitkan dengan eksploitasi tambang atau pariwisata. Cerita rakyat itu tidak ditulis sebagai tempelan, tetapi dihidupkan untuk membuat cerita pendek yang memiliki makna baru,” papar Hasta.

Selain itu, Hasta turut menyoroti pentingnya upaya pendokumentasian geomitologi dan folklor di DIY yang menurutnya masih belum terhimpun secara terpadu dalam direktori khusus.

Pada malam puncak perayaan, TBY akan menyerahkan penghargaan resmi kepada para pemenang yang meliputi Juara 1 hingga 3 serta Juara Harapan 1 dan 2.

Selain itu, acara ini juga dirangkai dengan peluncuruan buku antologi Tutur Tumurun Jilid II yang memuat 5 karya pemenang serta 15 cerpen pilihan juri.

Kemeriahan Pesta Cerita 2026 kian lengkap dengan sajian pertunjukan seni lintas disiplin, yang menghadirkan:

 Komunitas Suling Bambu Nusantara di Selasar Gedung Societet

 Pementasan AFC Sastra

 Dramatisasi cerpen pemenang oleh Teater JAB x Jenar Kidjing

 Tari eksploratif dari Sanggar Seni Kinanti Sekar

 Penampilan musik dari grup Rabu dan Buktu. ***

Berita Lainnya

Terkini