Saat Pandemi, Gubernur Koster: Popularitas Arak Bali Semakin Meningkat

21 Oktober 2020, 21:57 WIB

Gubernur Koster menerima audiensi Politeknik Negeri Bali di Rumah
Jabatan, Jaya Sabha, Denpasar/ist,

Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan saat pandemi Covids-19
popularitas arak Bali semakin meningkat dan tengah bergerak menuju pada arah
industri.

Hal ini tak lepas dari diterbitkannya Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 1
Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas
Bali.

“Saya optimis, saat nantinya minuman tradisional khas Bali ini menjadi suatu
industri bakal mampu bersaing dengan minuman khas tradisional dari negara lain
semacam sake dan soju,” ucapnya di sela menerima audiensi Politeknik Negeri
Bali di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha, Denpasar, Rabu (21/10/2020).

Pihaknya terus mempromosikan, sampai di Jakarta. Di kalangan wisatawan banyak
yang memuji kualitas arak Bali. Kemajuan perkembangan arak Bali menuju pada
arah industri didorong oleh terbitnya Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020.

“Sejak dikeluarkannya Pergub Nomor 1 Tahun 2020, kebijakan ini membawa berkah
bagi petani dan pembuat arak tradisional. Arak Bali sudah sangat terangkat dan
makin diminati banyak orang,” katanya.

Kebijakan Pergub tersebut lanjut dia, ternyata pula berdampak pada peningkatan
kesejahteraan masyarakat terutama terhadap upaya mengangkat produk-produk
lokal Bali.

“Baru pertama kali saya kira, ada produk lokal yang berkembang lewat kebijakan
gubernur (Pergub, red). Bahkan belum satu tahun (diterbitkan,red) sudah ada
bukti riil di lapangan,” sebutnya.

Arak Bali pada masa pandemi ini ternyata juga punya khasiat ‘usadha’ yang
terbukti membantu mempercepat penyembuhan pasien OTG Covid-19.

Oleh karena itu, untuk mempercepat arak Bali menuju arah industri, pihaknya
mengajak kalangan perguruan tinggi ikut terlibat mengembangkan produk lokal
berbasis kerakyatan tersebut.

“Makin terangkat namanya tentu akan semakin banyak permintaannya,” Koster
menambahkan.

Sekarang kan prosesnya masih tradisional. Jika nanti bisa didukung dengan
alat-alat hasil penelitian kalangan universitas tentu harapannya produksinya
meningkat, dan waktu produksinya juga bisa lebih singkat.

“Dan semuanya saya arahkan untuk menggunakan sumber daya di Bali, hidupkan
ekonomi kerakyatan,” tandasnya.

Direktur Politeknik Negeri Bali I Nyoman Abdi menyatakan, saat ini sedang
mempersiapkan alat destilasi dengan teknologi tepat guna yang sangat mudah
diterapkan di desa-desa sentra penghasil arak.

Konsepnya alat berupa alat destilasi tersebut bisa diterapkan di masyarakat
desa, Tujuan akhir mempersingkat waktu produksi arak. Low cost dan low energy.

“Sehingga produktivitas meningkat dan meningkatkan pula taraf hidup masyarakat
dan petani mendapat nilai ekonomi,” imbuhnya. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini