Mangrove untuk Masa Depan Bali, Pariwisata Berkelanjutan Jadi Tujuan

25 April 2026, 16:23 WIB

Badung – Udara pagi di Tahura Tanjung Benoa, Kuta Selatan, terasa semakin segar ketika Gubernur Bali Wayan Koster bersama Jamintel Kejagung RI Prof. Reda Manthovani dan jajaran Kejati Bali menanam bibit mangrove, Sabtu (25/4).

Kehadiran Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara, serta Forkopimda Bali menambah semangat kebersamaan dalam gerakan penghijauan ini.

Dalam sambutannya, Koster menegaskan mangrove bukan sekadar tanaman pesisir, melainkan benteng alami yang menjaga ekosistem Bali sekaligus memperkuat daya saing pariwisata dunia.

Ia menargetkan peningkatan ruang hijau dari 20 persen saat ini menjadi minimal 30–35 persen dalam empat tahun mendatang.

“Bali adalah destinasi wisata global. Isu lingkungan sangat sensitif bagi keberlanjutan pariwisata. Karena itu, penghijauan bukan hanya program, melainkan bagian dari kearifan lokal Sad Kerthi, khususnya Wana Kerthi: memuliakan tumbuh-tumbuhan,” tegas Koster.

Mangrove, lanjutnya, memiliki peran vital menyerap karbon, memperkuat struktur tanah, dan mencegah abrasi pantai yang terus menggerus daratan Bali.

Saat ini, luas mangrove di Bali mencapai sekitar 1.200 hektare, namun masih perlu diperluas agar mampu menahan laju abrasi.

Gerakan ini juga dikaitkan dengan nilai budaya Tumpek Wariga, hari suci untuk menghormati tumbuh-tumbuhan.

“Penanaman tidak harus menunggu hari tertentu, melainkan menjadi spirit berkelanjutan,” ujar Koster.

Kegiatan semakin bermakna dengan pelepasan puluhan burung cerucuk, kuntul, dan koak sebagai simbol pemulihan ekosistem.

Sebanyak 2.000 bibit mangrove jenis Rhizophora juga diserahkan kepada komunitas pecinta mangrove di Bali, dengan 200 bibit ditanam langsung oleh peserta.

Jamintel Reda Manthovani mengapresiasi kekompakan Bali di bawah kepemimpinan Koster.

“Menanam mangrove bukan hanya memulihkan alam, tetapi juga membentuk karakter diri. Apa yang kita lakukan hari ini akan tertanam dalam memori kita,” ujarnya.

Koster berharap gerakan ini menjadi rutinitas yang diikuti instansi pemerintah maupun swasta di Bali.

“Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi masa depan Bali. Ekosistem yang sehat akan langsung mengangkat citra pariwisata kita,”pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini