Yogyakarta – Suasana keberangkatan jemaah haji asal Kabupaten Gunungkidul, DIY, Kloter 10 Embarkasi Yogyakarta, terasa berbeda tahun ini.
Sebanyak 101 jemaah laki-laki dari KBIHU Muslimat NU Darul Qur’an Gunungkidul kompak mengenakan blangkon, penutup kepala khas Jawa, yang bukan hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga penanda kebersamaan di tengah lautan manusia di Tanah Suci.
Ketua rombongan, Saban Nuroni, menuturkan ide mengenakan blangkon lahir dari kebutuhan praktis.
“Ketika berada di kerumunan besar di Mekkah dan Madinah, kami ingin cepat menemukan jamaah. Blangkon jadi solusi sederhana tapi efektif,” ujarnya.
Blangkon juga menyimpan filosofi: wirud berjumlah 17 di bagian atas melambangkan rakaat salat lima waktu, sekaligus memudahkan jemaah saat bersujud.
Bagi para jemaah, blangkon bukan sekadar atribut. Muhammad Gunawan, salah satu peserta haji, mengaku bangga.
“Ini identitas budaya. Rasanya berbeda, serentak dengan teman-teman, nyaman, dan membuat kami bangga sebagai orang Indonesia,” katanya dengan senyum.
Inisiatif ini mendapat dukungan dari Ketua PPIH Embarkasi Yogyakarta, Jauhar Mustofa.
Ia menegaskan, penggunaan blangkon tidak melanggar aturan penerbangan maupun imigrasi.
Namun, ia mengingatkan agar jemaah tetap mematuhi syariat, khususnya saat mengenakan pakaian ihram, di mana penutup kepala tidak diperbolehkan.
Tahun ini, Kabupaten Gunungkidul memberangkatkan 360 jemaah, dengan Kloter 10 diisi sepenuhnya oleh warga setempat.
Di balik perjalanan spiritual menuju Tanah Suci, blangkon menjadi simbol sederhana yang menyatukan identitas, budaya, dan kebersamaan. Sebuah kisah kecil dari Gunungkidul yang menambah warna dalam perjalanan besar menuju Baitullah. ***

