Yogyakarta – Aksi brutal yang menewaskan seorang pelajar di depan SMAN 3 Yogyakarta akhirnya mulai terungkap. Jajaran Satreskrim Polresta Yogyakarta bersama Polda DIY berhasil membekuk tiga dari enam pelaku penganiayaan dan pembacokan di kawasan Kridosono.
Ketiganya ditangkap saat berusaha melarikan diri ke Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu dini hari, 20 Mei 2026.
Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol. Eva Guna Pandia, mengatakan penangkapan dilakukan oleh tim gabungan dengan operasi subuh.
Dari tiga pelaku yang diamankan, satu masih berstatus pelajar, sementara dua lainnya sudah dewasa.
“Untuk pelaku pembacokan di Kridosono, tadi subuh berhasil diamankan tiga orang di Cilacap. Satu pelajar, dua orang dewasa,” ujarnya.
Ketiga pelaku berinisial LA, AF, dan MY disebut berperan sebagai eksekutor di lapangan. “Perannya pelaku, fighter,” tegas Pandia.
Hasil penyelidikan sementara mengungkap tragedi ini bukanlah aksi klitih atau penyerangan acak, melainkan bentrokan antar geng sekolah.
Korban dan pelaku diketahui berasal dari geng berbeda. AF masih tercatat sebagai siswa SMK, sedangkan MY dan LA merupakan alumni dari sekolah yang sama.
Polisi kini masih memburu tiga pelaku lain yang belum tertangkap. Hingga saat ini, aparat mendalami siapa eksekutor utama yang melakukan pembacokan langsung terhadap korban, serta alasan para pelaku memilih Cilacap sebagai lokasi pelarian.
Pola pelarian ini disebut mirip dengan kasus kriminalitas di Bantul sebelumnya. “Dari total enam pelaku, tiga masih diburu,” jelas Pandia.
Kapolresta Yogyakarta mengeluarkan imbauan keras kepada orang tua pelaku yang masih buron agar segera menyerahkan anak mereka kepada pihak berwajib.
“Kami mengimbau orang tuanya agar segera menyerahkan putranya. Negara kita adalah negara hukum, segala perbuatan yang melanggar hukum apalagi menghilangkan nyawa orang akan diproses sesuai aturan berlaku,” tegasnya.
Insiden berdarah ini terjadi pada Minggu dini hari, 17 Mei 2026, dan menewaskan seorang pelajar berusia 17 tahun. Polisi memastikan kasus ini murni dipicu oleh aksi saling tantang antar geng sekolah, bukan aksi klitih.***

