Bambu Indah Lepas Burung Hantu di Bongkasa, Solusi Alami Atasi Hama Tikus

7 April 2026, 20:34 WIB

Bongkasa, Badung – Komitmen terhadap keberlanjutan kembali ditegaskan Bambu Indah Resort, salah satu resor eco-luxury bintang lima terkemuka di Ubud, melalui pelepasan simbolis delapan ekor burung hantu jenis (Tyto alba) di Pura Dalem Wantilan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali.

Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi dengan Owl Tower Bali Foundation, menghadirkan solusi alami untuk mengendalikan populasi tikus di area persawahan.

Upaya ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan.

Program ini turut melibatkan mahasiswa dari Universitas Udayana yang hadir untuk menyaksikan sekaligus mempelajari praktik konservasi berbasis alam tersebut, menegaskan nilai edukatif dari kegiatan ini.

Acara tersebut dihadiri oleh pendiri Bambu Indah, John Hardy dan Cynthia Hardy, bersama putra mereka Orin Hardy, serta Direktur Bambu Indah Ratheesh Raj.

Sejumlah pejabat dan tokoh lokal juga turut hadir, termasuk Camat Abiansemal Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, Perbekel Bongkasa I Gusti Agung Sumajaya, Bendesa Bongkasa Ida Bagus Gede Sujia Pradanta, Pekaseh Sengempel Bongkasa I Wayan Suambara, serta perwakilan Subak dan Kepala Owl Tower Bali, Astungkara Way.

Sebagai predator alami, burung hantu terbukti efektif menekan populasi tikus tanpa merusak lingkungan. Kehadirannya membantu melindungi hasil panen sekaligus menjaga kualitas tanah dan keberlangsungan ekosistem sawah.

“Racun tikus sering kali justru merusak lingkungan, bukan hanya menarget hama tetapi juga organisme lain. Dengan menghadirkan kembali predator alami, kita bekerja bersama alam, bukan melawannya,” ujar John Hardy, Senin (6/4/2026).

Program ini mencakup sekitar 40 hektare sawah yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami kerugian akibat serangan tikus. Menurut Orin Hardy, inisiatif ini melampaui sekadar solusi teknis.

“Sawah di Bali lebih dari sekadar pemandangan indah, melainkan ekosistem hidup dan ekspresi budaya yang dijaga melalui sistem Subak selama generasi. Sebagai bagian dari industri pariwisata, kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi keunikan Bali,” jelasnya.

Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi antara komunitas lokal, organisasi lingkungan, serta generasi muda. Masyarakat pun diimbau untuk turut menjaga burung hantu beserta habitatnya dengan meminimalkan gangguan dan menghindari praktik yang mengancam kelangsungan hidupnya.

Melalui langkah ini, Bambu Indah menunjukkan bahwa industri perhotelan berkelas dunia dapat berperan aktif dalam pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Diakui oleh TIME Magazine sebagai salah satu World’s Greatest Places dan oleh Tripadvisor sebagai One of a Kind Hotel (peringkat 3 dunia), Bambu Indah terus mengembangkan pendekatan regeneratif dalam operasionalnya.

Berlokasi di lembah Sayan, Ubud, resor yang didirikan pada 2005 ini bermula dari sebelas rumah pengantin antik Jawa yang dikumpulkan oleh John dan Cynthia Hardy.

Awalnya digunakan sebagai ruang berkumpul pribadi, tempat ini kemudian dibuka untuk publik dan berkembang menjadi destinasi global.

Kini, kawasan Bambu Indah membentang hingga ke tepi sungai, menghadirkan struktur bambu yang seolah tumbuh alami dari lanskap. Setiap bangunan membawa cerita tersendiri, memadukan tradisi, kerajinan, dan penghormatan terhadap alam.

Lebih dari sekadar tempat menginap, Bambu Indah hadir sebagai “laboratorium hidup” yang mengajak tamu merasakan gaya hidup regeneratif—di mana desain, makanan, dan pengalaman menyatu dalam harmoni dengan alam.

Dengan 24 hunian unik, fasilitas seperti Elevator Sunset Bar, River Warung, hingga pemandian alami di tepi sungai, resor ini menawarkan pengalaman yang mengedepankan koneksi mendalam antara manusia dan lingkungan.***

Berita Lainnya

Terkini