Desa Wisata Penglipuran Sambut Libur Sekolah dengan Festival Budaya XIII

7 Juli 2026, 14:38 WIB

BangliLibur sekolah kali ini terasa istimewa di Desa Wisata Penglipuran (6/7). Desa adat yang dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia kembali memikat hati wisatawan domestik maupun mancanegara dengan pesona budaya, edukasi, dan pengalaman berbasis masyarakat.

Semua rangkaian ini menjadi pembuka menuju Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026, yang akan digelar pada 9–11 Juli mendatang di Kabupaten Bangli, Bali.

Sebagai penerima penghargaan Best Tourism Village UN Tourism 2024, Penglipuran terus meneguhkan diri sebagai destinasi kelas dunia yang menjaga tradisi dan menumbuhkan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan regeneratif.

Tahun ini, festival mengusung tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif”, sebuah visi besar untuk memastikan pariwisata memberi manfaat nyata bagi lingkungan, budaya, masyarakat, dan generasi mendatang.

Pengalaman Wisata yang Autentik wisatawan diajak berkunjung. Dan mereka dapat menyaksikan Tari Barong Macan yang sarat filosofi keseimbangan hidup, belajar meracik Loloh minuman herbal tradisional Bali, hingga melukis di atas bambu sebagai aktivitas kreatif keluarga.

Setiap kegiatan dirancang agar pengunjung menikmati panorama desa, juga menyelami nilai budaya dan kehidupan masyarakat Penglipuran yang masih lestari.

Selama liburan sejak 23 Juni hingga 5 Juli 2026, jumlah wisatawan melonjak dengan rata-rata lebih dari 3.500 pengunjung per hari, naik signifikan dari hari biasa yang berkisar 2.000 orang.

Tren ini menegaskan Penglipuran tetap menjadi pilihan utama keluarga yang mencari liburan edukatif, nyaman, dan dekat dengan alam serta budaya.

Festival Budaya untuk Masa DepanFestival XIII akan menghadirkan parade budaya, pertunjukan seni tradisional, pameran UMKM, lomba tradisional, hingga hiburan rakyat.

Semua kegiatan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, menjadikan festival adalah perayaan dan ruang edukasi tentang pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan budaya.

Pesan dari Desa menurut I Wayan Sumiarsa, Kepala BUPDA Penglipuran, festival ini adalah bukti bahwa desa adat mampu mengembangkan pariwisata berkualitas tanpa kehilangan jati diri.

“Penglipuran Village Festival merupakan perayaan budaya serta komitmen kami menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya. Kami ingin setiap wisatawan menjadi bagian dari perjalanan regeneratif ini membawa pulang foto,  pengalaman, pengetahuan, dan kepedulian terhadap budaya serta lingkungan,” ujarnya.

Ajakan Menjadi Wisatawan Bertanggung Jawab Pengelola desa mengimbau wisatawan untuk menjaga kebersihan, mengurangi plastik sekali pakai, menghormati adat, dan mendukung UMKM lokal.

Setiap langkah kecil akan memberi dampak besar bagi keberlanjutan desa. “Kami mengundang seluruh masyarakat Indonesia dan wisatawan mancanegara untuk datang ke Desa Wisata Penglipuran, menikmati suasana desa adat yang lestari, mengikuti berbagai kegiatan liburan sekolah, serta bersama-sama merayakan Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026. Mari menjadi wisatawan yang bertanggung jawab dan bagian dari perjalanan menuju pariwisata inklusif, berkelanjutan, dan regeneratif,” tutup I Wayan Sumiarsa.***

Berita Lainnya

Terkini