Menggeser Paradigma: Menuju Pariwisata Regeneratif Bali Lewat Pembelajaran Desa Wisata Penglipuran

Pengurus PHRI Bali, Dr. Trisno Nugroho, S.E., MBA., menegaskan Bali membutuhkan cara pandang baru yang tidak lagi sekadar berfokus pada kuantitas kunjungan wisatawan atau besaran transaksi ekonomi.

12 Agustus 2026, 11:27 WIB

Denpasar– Pesona Bali sebagai destinasi wisata dunia kerap dihadapkan pada tantangan nyata berupa peningkatan kunjungan, tekanan terhadap ruang dan air, persoalan sampah, hingga upaya pelestarian budaya lokal.

Berangkat dari kompleksitas tersebut, pengamat ekonomi dan pariwisata yang juga Pengurus PHRI Bali, Dr. Trisno Nugroho, S.E., MBA., menegaskan Bali membutuhkan cara pandang baru yang tidak lagi sekadar berfokus pada kuantitas kunjungan wisatawan atau besaran transaksi ekonomi.

Doktor Pariwisata Universitas Udayana ini memperkenalkan konsep pariwisata regeneratif sebagai evolusi penting dari pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Jika pariwisata berkelanjutan berupaya agar aktivitas wisata tidak merusak lingkungan, maka pariwisata regeneratif melangkah lebih jauh dengan mengharuskan pariwisata untuk ikut memulihkan, memperkuat, and meningkatkan kualitas suatu destinasi.

“Pariwisata regeneratif bertanya: setelah wisatawan datang dan pergi, apakah desa menjadi lebih kuat? Apakah budaya semakin terjaga? Apakah lingkungan semakin pulih? Apakah masyarakat lokal semakin sejahtera?” ujar Dr. Trisno Nugroho dalam pemikiran dan riset disertasinya yang mengangkat judul Model Pengembangan Pariwisata Regeneratif di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

Dalam penelitiannya mengenai Desa Wisata Penglipuran, Dr. Trisno Nugroho menemukan bahwa Penglipuran merupakan salah satu wajah terbaik Bali yang berhasil menyandingkan pariwisata dengan kehidupan adat istiadat yang kuat.

Kendati demikian, ketenaran dan lonjakan kunjungan wisatawan ke desa adat yang terkenal bersih dan asri ini turut melahirkan tantangan baru, mulai dari manajemen pengelolaan sampah, penataan hutan bambu, hingga perlindungan ruang desa dari tekanan wisatawan.

Dari dinamika tersebut, ia menekankan bahwa desa wisata yang berhasil tidak boleh cepat berpuas diri, melainkan harus terus memperbarui diri. Berdasarkan hasil risetnya, pengetahuan dan pemahaman masyarakat terbukti menjadi faktor penentu utama dalam partisipasi aktif pembangunan pariwisata.

“Masyarakat yang hanya tahu belum tentu mau terlibat. Tetapi masyarakat yang memahami makna pariwisata, manfaatnya, risikonya, and tanggung jawabnya, akan lebih terdorong untuk ikut menjaga desanya. Desa wisata harus menjadi gerakan masyarakat, bukan hanya program pemerintah atau proyek pengelola,” jelas Dewan Pembina BaliCeb tersebut.

Sebagai panduan praktis bagi para pemangku kepentingan, Dr. Trisno Nugroho merumuskan Model REGENESIS atau yang dikenal sebagai Model 6M untuk diterapkan di berbagai karakteristik wilayah:

Memulihkan: Memulihkan lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial yang sempat mengalami tekanan akibat aktivitas kunjungan.

Menjaga Daya Dukung Tempat: Menghormati batas kapasitas setiap destinasi—baik kawasan pantai, hutan, pura, maupun perkotaan—tanpa membebani ketersediaan air, pengelolaan sampah, dan kenyamanan warga.

Memberi Manfaat Lebih Besar: Memastikan pendapatan pariwisata kembali dialokasikan untuk kesejahteraan masyarakat lokal, desa adat, serta pelestarian lingkungan.

Menguatkan Budaya dan Masyarakat: Menjadikan nilai-nilai adat, arsitektur, seni, hingga falsafah Tri Hita Karana semakin kokoh, bukan justru melemah karena pariwisata.

Menyatukan Para Pihak (Multi-stakeholder): Mengintegrasikan kolaborasi sinergis antara desa adat, pengelola, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga generasi muda.

Membangun Sistem yang Terus Belajar: Melakukan evaluasi berkala berbasis data yang akurat guna mengukur perbaikan lingkungan, pemerataan ekonomi, serta pemahaman budaya wisatawan.

Dr. Trisno Nugroho menambahkan, penerapan model tersebut dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing, seperti desa pesisir yang fokus pada pembersihan pantai dan ekosistem laut, desa pertanian yang menjaga sistem subak dan martabat petani, hingga kawasan perkotaan yang menghidupkan kembali ruang publik serta kawasan heritage.

Menutup pandangannya, ia menegaskan bahwa masa depan pariwisata Bali tidak boleh sekadar diukur dari tingkat keramaian kunjungan, melainkan dari seberapa tangguh desa adat, seberapa pulih alamnya, serta seberapa terjaganya taksu Bali demi generasi masa depan.***

Berita Lainnya

Terkini