Filosofi ‘Cita, Rasa, Karsa’: Kunci Hadapi Konflik Global di Ubud Writers dan Readers Festival 2026

Dalam perhelatan UWRF 2026 mengangkat tema besar "Salvasen" yang diterjemahkan melalui lensa filosofi Cita, Rasa, dan Karsa. Menurutnya, kata "Cita" merujuk pada kesadaran universal yang berakar dari ajaran Veda dan Upanisad.

7 Oktober 2026, 15:50 WIB

Denpasar -Di tengah dinamika situasi global yang kerap diwarnai konflik dan ketegangan, penyelesaian holistik berbasis kearifan lokal ditawarkan untuk merajut kembali kedamaian. Hal tersebut mengemuka dalam konferensi pers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang digelar di Artotel Sanur, Denpasar, Rabu (7 Oktober 2026).

Founder Yayasan Nusra Swari Saraswati, Ketut Suardana, hadir sebagai narasumber utama dalam kesempatan tersebut untuk memaparkan gagasan filosofis bertajuk “Salvasen” dengan berlandaskan pada konsep Cita, Rasa, Karsa.  

Ketut Suardana menceritakan inspirasi pemikiran ini berawal dari pengalamannya saat diundang oleh Conference Minister Office Counter Terrorism di Madrid, Spanyol.

Di hadapan forum internasional tersebut, ia menyampaikan pandangan mengenai pentingnya membawa pemahaman kultural—khususnya dalam industri sepak bola—agar dapat maju secara positif tanpa diwarnai tindakan anarkis atau kekerasan.

“Saya berikan mereka pemahaman tentang Cita Rasa Karsa dan mereka sangat apresiasi,” ujar Ketut Suardana dalam keterangannya.

Dalam perhelatan UWRF tahun ini, ia mengangkat tema besar “Salvasen” yang diterjemahkan melalui lensa filosofi Cita, Rasa, dan Karsa. Menurutnya, kata “Cita” merujuk pada kesadaran universal yang berakar dari ajaran Veda dan Upanisad.

Ia menjabarkan bahwa Cita mencakup pernyataan filosofis mendalam seperti Aham Brahmasmi, Tat Tvam Asi, Ayam Atma Brahman, hingga Prajna Masi, yang menegaskan bahwa kesadaran tertinggi adalah wujud dari Tuhan itu sendiri.  

Sementara itu, elemen “Rasa” dimaknai sebagai esensi ketuhanan yang menghadirkan kebahagiaan sejati. Untuk mewujudkan cita dan rasa tersebut, manusia memerlukan wujud tindakan nyata atau “Karsa” yang senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai Dharma (kebaikan universal).

Ketiga unsur ini, jika dijalin secara harmonis, akan melahirkan tatanan kehidupan yang selaras—bagaikan samudra luas dengan gelombang yang tetap tenang di dalamnya.  

Ketut Suardana juga menekankan pentingnya penerapan filosofi ini mengingat situasi kontemporer dunia yang sarat akan drama dan gesekan sosial.

Melalui pencapaian kesadaran yang mendalam (Zen) serta rasa saling menghargai antarsesama, karsa yang positif diyakini mampu melahirkan kedamaian, keindahan, dan kebahagiaan.  

“Kesadaran inilah yang akan menjadi suatu dasar pemikiran kita untuk bisa melepaskan diri dari permasalahan-permasalahan sosial, baik itu di bidang politik, ekonomi, dan lain-lainnya,” ungkapnya.  

Gagasan komprehensif mengenai perpaduan filosofi ini rencananya juga akan dituangkan secara lengkap dalam buku terbaru karya Ketut Suardana yang saat ini tengah memasuki proses percetakan di Jakarta.

Melalui momentum Ubud Writers & Readers Festival 2026 ini, ia berharap nilai-nilai kearifan lokal nusantara dapat menjadi fondasi berpikir masyarakat luas dalam merawat kedamaian berbangsa dan bernegara. ***

Berita Lainnya

Terkini