Kementerian Lingkungan Hidup Verifikasi 356 Perusahaan Terkait Karhutla, Sanksi Tegas Menanti Korporasi Bandel

Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mengungkapkan luas lahan yang terbakar di setiap perusahaan menunjukkan variasi yang signifikan, mulai dari skala kecil hingga mencapai ratusan hektare.

1 November 2026, 13:13 WIB

Yogyakarta– Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) saat ini tengah mengintensifkan proses verifikasi terhadap 356 perusahaan yang wilayah konsesinya dilaporkan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah.

Langkah penegakan hukum ini dilakukan secara cermat untuk mengusut tuntas akar permasalahan serta mengidentifikasi potensi pelanggaran yang dilakukan oleh korporasi.

Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mengungkapkan  luas lahan yang terbakar di setiap perusahaan menunjukkan variasi yang signifikan, mulai dari skala kecil hingga mencapai ratusan hektare.

Pihaknya memastikan bahwa seluruh tahapan verifikasi dijalankan secara teliti dan objektif guna memetakan tingkat kesalahan dari masing-masing pihak secara adil.

“Ada 356 perusahaan. Namun, modusnya berbeda-beda. Ada yang dua hektare, lima hektare, 10 hektare, bahkan ratusan hektare yang terbakar. Nanti akan kelihatan mana yang memang berbuat jahat, mana yang abai, setengah abai, atau memang perlu ditindak,” ujar Jumhur saat ditemui awak media di Yogyakarta, Jumat (30/10/2026).

Jumhur menegaskan  pihak kementerian tidak akan memberikan toleransi bagi korporasi yang terbukti sengaja melakukan pembakaran lahan. Sanksi berat telah disiapkan bagi pelanggar, mulai dari pembekuan hingga penutupan operasional usaha, serta pencabutan izin lingkungan secara permanen.

Kendati demikian, ia menambahkan bahwa rincian mendalam mengenai perusahaan-perusahaan tersebut belum dapat dipublikasikan secara luas ke publik. Hal ini dikarenakan proses investigasi mendalam di lapangan masih terus berlangsung oleh tim pengawas lingkungan.

Di sisi lain, di tengah upaya penegakan hukum yang berjalan, kondisi karhutla secara nasional dilaporkan mulai berangsur membaik.

Perbaikan situasi ini merupakan hasil dari kombinasi faktor cuaca yang mendukung serta kerja keras di lapangan, termasuk turunnya hujan dan operasi pemadaman intensif yang melibatkan lebih dari 70.000 personel gabungan bersama masyarakat.

“Kalau tidak ada mereka, mungkin jauh lebih dahsyat. Jadi, kita hargai itulah,” tutur Jumhur mengapresiasi kerja keras para petugas dan warga di garis depan pemadaman.

Sebagai langkah preventif jangka panjang, KLH juga menggencarkan kampanye moral bertajuk “tobat ekologis”.

Saat melakukan kunjungan strategis ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, Jumhur mendorong seluruh elemen bangsa—baik unsur pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat luas—untuk melakukan evaluasi diri dan menghentikan segala bentuk praktik yang dapat merusak kelestarian alam.

“Dan tak lupa aktif memulihkan ekosistem yang terdampak demi mencegah berulangnya bencana ekologis di masa mendatang,”tutupnya. ***

Berita Lainnya

Terkini