Buleleng – Buleleng tengah bersiap menyambut sebuah perhelatan seni budaya yang segar dan penuh warna.
Singa Kren Festival, yang untuk pertama kalinya digelar, hadir dengan tema Purwaning Sastrotsawa Pragati dan akan berlangsung selama tiga hari, 8–10 Mei, di Pelabuhan Tua Buleleng.
Festival ini bukan sekadar panggung hiburan, melainkan ruang temu beragam ekspresi budaya yang hidup berdampingan di Buleleng.
Dari tari Bali, akulturasi budaya Tionghoa, Muslim, hingga Buddha, semuanya dipadukan dengan musik modern serta geliat UMKM lokal.
Camat Buleleng, Putu Gopi Suparnaca, menjelaskan bahwa nama “Singa Kren” diambil dari Singaraja dan kreativitas seni.
“Potensi seni yang unggul harus ditampilkan. Itulah latar belakang kenapa kami mengangkat nama ini,” ujarnya.
Rangkaian acara pun dirancang meriah: pentas seni budaya, konser musik, bazar UMKM dan kuliner, hingga kegiatan populer seperti fun run, zumba party, karaoke, dan fashion show.
Puncaknya, sebuah garapan kolosal melibatkan lebih akan menampilkan komposisi lintas etnis dengan iringan gong kebyar.
Ketua Sanggar Santhi Budaya, I Gusti Ngurah Eka Prasetya, menekankan keunikan garapan ini.
“Biasanya tiap etnis punya karakter musik berbeda. Kali ini kami mencoba memadukan dengan gong kebyar, baik melodi pentatonis maupun diatonis,” ungkapnya.
Dengan konsep penyambutan tamu yang dikemas berbeda, festival ini diharapkan memberi pengalaman baru sekaligus memperkuat kolaborasi seni.
Lebih dari itu, Singa Kren Festival menjadi simbol semangat menjaga keberagaman budaya agar tetap hidup dan berkembang di Buleleng. ***

