Yogyakarta – Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta dipastikan bakal semakin semarak menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Lahan seluas kurang lebih 1 hektare milik PT Anindya Mitra International (AMI) yang berlokasi di Jalan Mangkubumi kini resmi disulap menjadi destinasi wisata baru bertajuk “Oase Malioboro”.
Destinasi berkonsep Cultural Creative Park tersebut telah menggelar soft opening pada Sabtu (31/10/2026) malam dan dijadwalkan mulai beroperasi penuh untuk umum pada pekan pertama November 2026.

Kehadirannya diproyeksikan menjadi ruang komunal segar yang memadukan pertunjukan seni budaya lokal dengan visual futuristik nan imersif di tengah ruang terbuka hijau (RTH).
Direktur Utama PT AMI, Priyono Bambang Hernowo, menjelaskan bahwa revitalisasi aset yang sempat mangkrak cukup lama ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan ruang rekreasi masyarakat, baik secara fisik maupun spiritual. Ia merinci sekitar 75 persen dari total lahan sengaja dipertahankan sebagai kawasan pepohonan rindang.
Tidak saja sebagai tempat nongkrong, destinasi ini juga menghadirkan tiga falsafah utama Jawa—yaitu Sangkan Paraning Dumadi, Memayu Hayuning Bawana, dan Manunggaling Kawula Gusti—yang dikemas secara interaktif menggunakan teknologi modern berkat asesmen Dewan Kebudayaan DIY.

“Ini salah satu aset yang kita miliki. Saat ini kita rejuvenate untuk menjadi salah satu destinasi. Kenapa disebut Oase? Karena ada kehausan-kehausan atas fisik maupun spiritual yang ada di Jogja. Kami berharap ini bisa menggerakkan sirkular ekonomi di DIY, di mana nantinya beberapa UMKM dan komunitas kreatif akan masuk dan terlibat di sini,” ujar Bambang saat ditemui usai acara soft opening.
Sebagai ruang kolaborasi terbuka, Oase Malioboro turut menggandeng para kreator dan seniman lokal. Salah satu ikon unik yang dihadirkan adalah patung “Rupa Jiwa” yang terinspirasi dari keberagaman seniman Jogja di bidang seni rupa, film, hingga teater.
Kreator Konsultan dan Bisnis Developer Oase Malioboro, Yudha KN, mengungkapkan setiap harinya tempat ini akan menampilkan setidaknya 10 seniman terkurasi yang menyajikan karya visual, teater, hingga workshop kriya dan edukasi budaya unggah-ungguh (sopan santun) khas Yogyakarta.
Konsepnya dikolaborasi dengan para seniman. Siapa pun yang punya produk industri kreatif atau karya-karya kreatif, silakan berkolaborasi, kami terbuka. Oase itu wadah yang menyejukkan dengan konsep nature.
“Jadi kalau di Yogyakarta rasanya panas, begitu masuk ke dalam Oase yang dekat dengan lingkungan pariwisata ini, semoga bisa menyejukkan hati mereka semua,” tutur Yudha.
Dukungan penuh juga mengalir dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang hadir dalam acara peluncuran tersebut menilai Oase Malioboro tidak hanya memperkaya magnet pariwisata daerah, tetapi juga memegang peran strategis dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui pelibatan aktif pelaku UMKM dan komunitas seniman lokal.
Oase Malioboro menjadi wajah pariwisata baru untuk Kota Yogyakarta. Tentu Pemkot Yogyakarta sangat mendukung hadirnya destinasi ini dan berharap kawasan ini menjadi ruang yang memiliki muatan budaya.
“Keterlibatan UMKM lokal diharapkan dapat memberikan multiplier effect serta dampak positif terhadap perekonomian, khususnya bagi usaha-usaha kreatif yang tumbuh di Kota Yogyakarta,” ungkap Wawan.
Bagi wisatawan maupun warga lokal yang ingin berkunjung, Oase Malioboro akan beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 23.00 WIB. Tiket masuk dasar dibanderol seharga Rp35.000 per orang, sementara untuk program khusus atau workshop interaktif bersama seniman tertentu akan dikenakan biaya terpisah.***

