Belanja Warga Bali Tetap Kencang di April 2026: Libur Panjang dan Festival Jadi Pemicu

Data terbaru dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali berada di level 125,6.

21 Mei 2026, 22:29 WIB

Denpasar– Optimisme pelaku usaha di Bali masih terjaga dengan sangat baik. Meski ekonomi global penuh tantangan, geliat konsumsi rumah tangga di Pulau Dewata pada April 2026 justru mencatatkan performa gemilang.

Data terbaru dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali berada di level 125,6.

Angka ini naik 6,5% dibandingkan tahun lalu, sekaligus mengonfirmasi bahwa aktivitas ritel Bali masih berada di zona optimis.

Tidak hanya terbantu oleh libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung, perayaan HUT di Kabupaten Gianyar dan Klungkung terbukti sukses menjadi magnet ekonomi baru.

Warga antusias berbelanja, terutama pada sektor barang budaya, rekreasi, hingga alat musik dan olahraga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menyebutkan bahwa sinergi antara kegiatan masyarakat dan stabilitas ekonomi menjadi kunci.

Pihaknya melihat aktivitas masyarakat memang sedang tinggi, terutama didorong oleh perayaan daerah dan libur panjang.

“Dampaknya sangat terasa pada kenaikan konsumsi di berbagai sektor ritel, mulai dari aksesori kendaraan hingga kebutuhan hobi,” ujar Achris Sarwani di Denpasar, Kamis (21/5/2026).

Dari sisi barang yang paling laris, kategori Suku Cadang dan Aksesori menjadi juara dengan lonjakan penjualan mencapai 3,9% (secara bulanan). Hal ini diikuti oleh kategori Barang Budaya & Rekreasi (3,3%) serta Bahan Bakar Kendaraan (2,6%).

Menariknya, meski transaksi masyarakat meningkat tajam, laju inflasi tetap “jinak”. Tercatat inflasi tahunan Bali per April 2026 berada di angka 2,08%—angka yang masih sangat ideal dan berada di dalam rentang sasaran nasional (2,5 ± 1%).

Meski saat ini tren belanja sedang on fire, para pelaku usaha mulai sedikit berhati-hati.

Berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP), pengusaha memprediksi pertumbuhan akan melandai dalam 3 hingga 6 bulan ke depan. Namun, bukan berarti pesimis, karena skor IEP saat ini masih berada di zona optimis.

Untuk memastikan ekonomi Bali tetap “napas panjang”, Bank Indonesia dan TPID se-Provinsi Bali kini fokus memperkuat strategi 4K Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

“Kami terus bersinergi menjaga daya beli masyarakat. Dengan dukungan kebijakan subsidi dari Pemerintah dan kelancaran distribusi barang, kami optimistis ekonomi Bali akan terus tumbuh berkelanjutan,” pungkas Achris.***

Berita Lainnya

Terkini